Menteri Anies : Izinkan Pemerintah untuk Ikut dalam Jaringan ‘Aisyiyah

05 Agustus 2015 18:01 WIB | dibaca 947

Anies Baswedan tiba di arena Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah pada 04 Juli 2016 (dok. ‘Aisyiyah)

 

Satu abad usia ‘Aisyiyah dimaknai Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang mengenyam pendidikan TK-nya di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal ini sebagai pondasi kuat bagi perjalanan ‘Aisyiyah ke depan. “1 Abad merupakan milestone penting bagi ‘Aisyiyah, karena tidak  banyak organisasi  yang usianya lebih panjang dari usia kemerdekaan,” tegas Anies. Hal tersebut disampaikan Anies di depan peserta Muktamar ‘Aisyiyah ke-47, di gedung Balai Prajurit M. Jusuf

Dalam kesempatan tersebut, Anies juga mengapresiasi kiprah ‘Aisyiyah sebagai organisasi pelopor gerakan pendidikan khususnya  untuk anak usia dini yang tampak dari  dari keberanian ‘Aisyiyah mendirikan Frobel School (taman kanak-kanak) di saat Indonesia belum lahir.  Anies kemudian dengan fasih menyebut jumlah amal usaha setingkat pendidikan anak usia dini yang berjumlah lebih dari 19.000, dan sebaran ‘Aisyiyah dari Sabang hingga Merauke.

Saat ini, ungkap Anies, pemerintah tengah serius untuk mengembangkan pembangunan manusia dan ‘Aisyiyah diakuinya memiliki jaringan untuk itu di mana-mana. “Oleh karena itu, izinkan pemerintah untuk ikut dalam jaringan ‘Aisyiyah, kita bersama-sama mendorong program itu,  terutama untuk  pendidikan  usia dini,” ajak Anies yang disambut tepuk tangan dari  para muktamirin.

Pendidikan Anak Usia Dini, tegas Anies, akan menjadi konsentrasi aktivitas pendidikan di seluruh dunia. Pendidikan anak usia dini 1 tahun sebelum masuk SD, ungkapnya, akan menjadi program wajib yang dijalankan dunia pada 2030 nanti, sebagaimana telah disepakati oleh 130 Menteri Pendidikan yang hadir dalam World Education Forum, Mei lalu, di Korea. Investasi pendidikan yang tertinggi manfaatnya, tambah Anies, investasi pendidikan dari usia kehamilan sampai 6 tahun. Pendidikan pada usia 1-6 tahun menjadi sangat penting karena pada usia inilah angka return investment sangat besar. Artinya  pada masa usia inilah karakter setiap anak terbentuk, yang akan  menentukan  keberhasilan  hidup mereka kelak.

Penumbuhan karakter positif anak yang berfokus pada karakter moral dan kinerja juga akan menjadi perhatian penting. Anies menjelaskan akan  menggunakan 3 jalur, yaitu kurikulum, ekstrakurikuler, dan non kurikuler. Ia mencontohkan, piket membersihkan kelas dan sekolah akan menjadi kegiatan wajib regular yang tidak masuk kurikulum tapi wajib dijalankan untuk menumbuhkan budaya mengelola kebersihan, dengan mengajarkan, membiasakan, dan mendisiplinkan hingga menjadi budaya. Di jalur ketiga inilah atau non kurikuler , tambah Anies, tersedia banyak ruang inovasi. Ia menantang ‘Aisyiyah untuk menunjukkan good practice yang akan disebarkan di sekolah lain di Indonesia, “apa yang ingin kita lakukan bukan mengajaritapi belanja praktik terbaik supaya dapat menular ke sekolah lain,” tukas putra dari salah seorang kader ‘Aisyiyah Yogyakarta ini.  ( Hjr/Zulfikar Hafidz)