Melalui Madrasah Perempuan Berkemajuan, LPPA Bagikan Pengalaman dan Pikiran Islam Berkemajuan

09 Maret 2019 11:58 WIB | dibaca 121

 

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat (LPPA) 'Aisyiyah menggelar kegiatan Madrasah Perempuan Berkemajuan yang bertempat di Kantor PP 'Aisyiyah Jl. KH. Ahmad Dahlan no.53, Yogyakarta pada Sabtu (9/3).

Ketua LPPA, Alimatul Qibtiyah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara ini didesain sebagai salah satu cara memperingati hari perempuan sedunia dengan acara yang lebih subtantif. Alimatul menambahkan bahwa Madrasah Perempuan Berkemajuan sudah diinisiasi oleh LPPA sejak dua tahun lalu dengan tujuan untuk membagikan pengalaman serta pandangan 'Aisyiyah. "LPPA merasa penting untuk membagi pemikiran dan pengalaman dalam menumbuhkan perempuan yang berkemajuan kepada masyarakat umum," paparnya. Ia menambahkan pikiran-pikiran 'Aisyiyah yang berkemajuan seharusnya tidak hanya dinikmati oleh warga 'Aisyiyah tetapi juga dapat diketahui oleh masyarakat umum.

  

Acara ini diikuti oleh sekitar 40 peserta yang kebanyakan adalah kalangan mahasiswa dari DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dalam Madrasah Perempuan Berkemajuan ini para peserta secara aktif mengikuti  tiga materi yaitu Islam Wasathiyah yang disampaikan oleh Ketua LLPA, Alimatul Qibtiyah, Menjadi Perempuan Berkemajuan yang disampaikan oleh Noorkamila dari Divisi Penelitian dan Kajian LPPA, dan Peran Politik Perempuan yang disampaikan oleh Nur Azizah dari Divisi Penguatan Politik Perempuan. Terkait tema peran politik perempuan, Alimatul menekankan bahwa tidak ada niatan dari acara ini untuk menggiring kepada salah satu pasangan calon karena Muhammadiyah memberikan hak pilih sepenuhnya kepada masing-masing warga persyarikatan. Akan tetapi menurutnya perempuan perlu cerdas mensikapi pilihan politiknya sehingga apapun yang dipilih dan apapun situasi politik yang ada di sekitar bisa disikapi dengan baik.

  

 

"Bicara tentang politik perempuan bukan hanya terkait Pemilu atau Pilkada, tetapi personal is political, everyday life is politic." Ia menyampaikan bahwa bagaimana bernegosiasi dengan suami, bernegosiasi dengan tetangga, bernegosiasi ketika profesional bekerja, ketika berkiprah di masyarakat itu adalah politik sehingga para perempuan harus bergerak pada high political level, bukan hanya politik praktis untuk menghadapi pemilu. Ia berharap para peserta yang hadir setelah selesainya acara ini bisa lebih memahami akan pandangan 'Aisyiyah tentang perempuan berkemajuan, dan mungkin nanti bisa jatuh cinta kepada gerakan 'Aisyiyah maupun Nasyiatul 'Aisyiyah. (Suri)