LLLHPB ‘Aisyiyah Bergerak di Pandeglang Membantu Penyintas Tsunami Longsor Anak Krakatau di Selat Sunda

03 Januari 2019 09:41 WIB | dibaca 214

Pandeglang -- Tsunami akibat longsor anak gunung Krakatau di Selat Sunda menelan korban yang cukup besar, baik korban jiwa sebanyak 437 orangmeninggal dunia, 16 hilang,selain itu 14.059 orang mengalami luka-luka, dan 33.721 mengungsi(Data update BNPB 31 Desember 2018). Ditambahdata harta bendayang rusak atau hilang akibat bencanatersebut. Merespon kejadian tersebut, via tanggap darurat, ‘Aisyiyah Daerah Pandeglang bersama LLHPB Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah telah mengkordinasikan penanganan bencana bersama MDMC. Peran ‘Aisyiyah memperkuat dapur umum dan melakukan suplai logistik ke area terdampak dan penyintas di sana. Pada (29-30/12) lalu, LLHPB PPA telah mengunjungi posko-posko yang ada di Pandeglang untuk melakukan assessment terkait kebutuhan pengungsi dan penyintas pasca bencana terjadi.

Peran LLHPB PPA dalam visit lokasiberbasis amalusaha pendidikan Muhammadiyah baik di Poskor Menes, Labuan, Teluk, dan Angsanadengan mendorong dan memperkuat penyediaan dapur umum bagi penyintas serta melakukan Pendataan Amal Usaha ‘Aisyiyah yang terdampak bencana. “Alhamdulilah amal usaha ‘Aisyiyah (TK) aman, hanya guru dan murid yang mengungsi dan perlu diperhatikanlebih lanjut. Jumlah guru terdampak 6 orang dan murid sebanyak 64 orang” ujar Tuti Hayati, Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Pandeglang. Kebanyakan rumah-rumah yang kebanjiran dan trauma tsunami di daerah Labuan, salah satu kecamatan terdampak tsunami dan juga banjir yang terjadi minggu malam kemarin. Selain itu, dalam visit ke kecamatan Angsana, banyak nelayan dari desa Panimbang yang terdampak dan membutuhkan recovery ekonomi secara lebih cepat.

Rencana Intervensi yang akan dilakukan oleh LLHPB ‘Aisyiyah adalah mendorong program psikososial bagi guru dan anak, juga perempuandan lansia, program livelihood yang melibatkan perempuan (istri dari nelayan) agar bisa survive dan bersemangat melanjutkan usaha mereka dan hidup normal kembali.

Sumber: Acha Khadir