Launching Aplikasi dan Website, Suara 'Aisyiyah Jawab Tantangan Jaman

11 Juli 2020 16:04 WIB | dibaca 188

 

 

Dalam rangka 97 Tahun Suara ‘Aisyiyah, Redaksi Majalah Suara ‘Aisyiyah melakukan Launching Aplikasi dan Website Suara ‘Aisyiyah sekaligus Seminar Daring dengan tema ‘Arah dan Tantangan Media Dakwah di Era Virtual’. Pada acara yang digelar secara daring Sabtu (11/7) ini menghadirkan empat orang narasumber yakni Abdul Khohar selaku Dewan Redaksi Media Group, Tri Hastuti Nur Rochimah selaku Sekretaris PP ‘Aisyiyah, Adib Sofia selaku Pemimpin Redaksi Majalah Suara ‘Aisyiyah, serta Twediana Budi Hapsari dari Tim Redaksi Majalah Suara ‘Aisyiyah sekaligus Ketua Program Studi KPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Mengapresiasi langkah yang dilakukan Majalah Suara ‘Aisyiyah, Abdul Khohar menyampaikan apa yang saat ini dilakukan sudah on the right track. “Mau membuka kanal web dan masuk ke aplikasi itu sebuah langkah yang benar karena berdasarkan survei terjadi perubahan media yang diakses oleh masyarakat.” Kohar menyampaikan bahwa saat ini hanya 4-8% masyarakat Indonesia yang masih membaca media cetak dan 98% Milenial serta Gen-Z mengakses internet. Era digital ini menurut Kohar adalah sesuatu yang tidak bisa kita bendung atau robohkan maka sebuah pilihan cerdas adalah bagaimana kita bisa mewarnai tembok ini sesuai dengan keinginan kita.

Kohar menyampaikan agar jangan khawatir bahwa era digital akan membunuh media cetak. Menurutnya produk cetak memang harus dirawat, dijaga dan dibuat penampilan yang menarik dengan isinya yang harus tetap berbobot. “Memang media cetak jumlah pembacanya berkurang tetapi kredibilitasnya masih tetap nomor satu. Pertarungan media cetak adalah kredibilitas karena orang-orang media cetak dididik terbiasa bekerja dalam spirit intelektualitas, belajar, mendalami, dan tidak langsung digelontorkan begitu saja.”  Produk cetak bagi Kohar tidak boleh dimusnahkan dengan alasan dialah penjaga sekaligus ideologi dari sebuah institusi.

Majalah Suara ‘Aisyiyah sebagai majalah perempuan yang sudah terbit sejak 1925 ini masih terus bertahan di tengah perkembangan era digital. Menurut Tri Hastuti, selaku Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah ini menunjukan adanya kesadaran ‘Aisyiyah untuk berdakwah lewat media masa semenjak  awal berdirinya. “Suara ‘Aisyiyah ini adalah perpanjangan tangan 'Aisyiyah pusat ke ranting juga menjadi media komunikasi pimpinan 'Aisyiyah dari pusat hingga ranting.”

Pemimpin Redaksi Majalah Suara ‘Aisyiyah, Adib Sofia menyampaikan bahwa Suara ‘Aisyiyah menjadi salah satu jalan jihad literasi. “Jihad literasi melalui Suara ‘Aisyiyah harus dihidup-hidupi, terutama oleh lembaga-lembaga yang ada di ‘Aisyiyah maupun Muhammadiyah sehingga Suara ‘Aisyiyah dapat menjadi lembaga yang profesional, dapat hidup menjadi majalah yang berkualitas sesuai dengan zamannya,” ujarnya.

Sementara itu, dalam paparan mengenai Bagaimana Tantangan Suara ‘Aisyiyah di Masa Depan oleh Twediana Budi Hapsari, menyampaikan bahwa Suara ‘Aisyiyah merupakan majalah perempuan tertua di Indonesia yang telah berperan dan berkiprah bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Usul saya, kata Twediana, “Di masa depan Suara ‘Aisyiyah harus terus mengikuti perkembangan zaman salah satunya diwujudkan dengan digitalisasi majalah, meningkatkan interaksi pembaca melalui rubrik yang interaktif, tetap update kegiatan ‘Aisyiyah di seluruh level, serta memperbanyak penokohan tokoh ‘Aisyiyah di daerah. (Suri/Ditsa)