Kunjungi Atase Pendidikan dan Kebudayaan Australia, Noordjannah Sampaikan Gerakan Wasathiyah Muhammadiyah

01 Maret 2019 11:13 WIB | dibaca 124

AUSTRALIA -- Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah melakukan kunjungan silaturrahim ke Wisma Atase Pendidikan dan Kebudayaan Australia pada Kamis (29/02) pukul 18.30 sore waktu setempat. Rombongan terdiri dari Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini beserta jajaran PP ‘Aisyiyah dan perwakilan dari Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Kegiatan dihadiri oleh sekitar 50 orang yang terdiri dari pelajar/mahasiswa serta simpatisan Muhammadiyah. Mereja tergabung dalam kajian khataman yang dilaksanakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).

Kedatangan rombongan disambut langsung oleh Imron, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Australia. Imron menyampaikan rasa syukur atas kesempatan dan kehadiran kader dan simpatisan Muhammadiyah-‘Aisyiyah. Rombongan juga disambut dengan pelaksanaan Kajian Khataman, sebagai wujud menjalin silaturrahim antar pendatang di Canberra. Kegiatan silaturrahim ini juga dibalut dalam suasana santai dan hangat.

Dalam kegiatan silaturrahim antara PP ‘Aisyiyah dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan tersebut, Noordjannah menyampaikan rangkaian kegiatan PP ‘Aisyiyah selama berada di Australia, yaitu mengukuhkan PCIA Australia serta melakukan kunjungan ke La Trobe University, University of Canberra dan Australia National University. Noordjannah turut menyampaikan harapannya kepada warga ‘Aisyiyah-Muhammadiyah yang tinggal di Australia untuk memunculkan gerakan wasathiyah atau gerakan tengah yang tidak berpihak ke kanan ataupun ke kiri. “Salah satunya dengan adanya Rumah Muhammadiyah Melbourne atau Muhammadiyah Australia College ini, bisa timbul nantinya gerakan wasathiyah atau gerakan tengahan yang tidak berpihak, baik ke kanan maupun ke kiri. Gerakan itu juga sebagai spirit dari gerakan Islam berkamjuan,” ungkapnya.

Tak lupa Noordjannah mengaitkan dengan konteks perpolitikan saat ini. Noordjannah meminta agar sebagai warga Muhammadiyah-‘Aisyiyah ikut mendorong warga persyarikatan yang terjun di ranah politik, serta mengawal proses pemilihan yang akan berlangsung April 2019 mendatang. “Dalam konteks menjelang pemilihan presiden (pilpres), seharusnya kita ikut mengawal para pimpinan ‘Aisyiyah yang punya potensi di kancah politik tentunya dengan memberikan dorongan untuk mereka yang  menjadi calon legislate,” papar Noordjannah.

Di akhir Noordjannah juga menegaskan bahwa Muhammadiyah-‘Aisyiyah membebaskan warganya dalam pemilu yang akan datang karena gerakan wasathiyah Muhammadiyah. “Dalam pemilu kali ini kami tidak mendorong untuk memilih pada yang satu atau yang tiga, kami membebaskan hak pilih itu, sehingga Muhammadiyah pandangannya tetap di tengah, prinsipnya memberi panduan bagaimana pimpinan untuk bertanggung jawab untuk perjuangan umat Islam dalam konteks pada banyak hal,” ucapnya. (AAM)