LPPA Adakan Round Table Discussion Membahas Konsep Perempuan Islam Berkemajuan

17 September 2016 13:49 WIB | dibaca 1356

 

Yogyakarta- Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah (LPPA) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan Round Table Discussion (RTD) bertema Konsep Perempuan Islam berkemajuan, yang berlangsung di ruang Sidang Hubungan Internasional UMY (10/9). Menurut Khusnul Hidayah, Wakil Ketua LPPA, RTD kali ini bertujuan untuk mematangkan konsep dan implementasi perempuan Islam berkemajuan di tengah berbagai tantangan pada abad ke-21 ini, "Kita ingin dapat membumikan konsep perempuan Islam berkemajuan agar dapat diimplementasikan dalam gerakan ‘Aisyiyah dan kehidupan keseharian perempuan," Ungkap Khusnul.

Khusnul menjelaskan, sebenarnya sejak satu abad lalu, K.H Ahmad Dahlan telah memperjuangkan hak perempuan dengan melibatkan perempuan di ruang publik dan tidak semata berada di ranah domestic. Keberadaan 'Aisyiyah, tambah Khusnul, telah membangkitkan para perempuan dari keterpurukan, “Jadi sebenarnya Perempuan Islam Berkemajuan sudah ada dari 1 Abad lalu, namun di era saat ini tantangannya berbeda," ujar Khusnul Hidayah.

Hal senada diungkapkan juga oleh Susilaningsih, Ketua Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, bahwa sejak berdirinya di tahun 1917, 'Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muslim merupakan social movement yang telah memberdayakan perempuan melalui usaha-usaha yang dilakukannya. Susilaningsih mencontohkan, ‘Aisyiyah telah mendirikan Froble School untuk kali pertama di tahun 1917, Mushola Perempuan di tahun 1922, dan Kongres Bayi atau baby show di tahun 1930-an. Oleh karena itu, Susilaningsih mengaku prihatin, jika saat ini justru terdapat pandangan bahwa perempuan lebih baik berada di rumah.

Penyelenggaraan RTD tentang Perempuan Islam Berkemajuan ini, dalam pandangan Susilaningsih, menjadi penting di tengah keprihatinan tersebut. Selain itu, imbuh Susilaningsih, konsep Perempuan Islam Berkemajuan sangat terkait dengan visi gerakan Abad ke-2 'Aisyiyah yang meliputi pandangan Islam yang berkemajuan, melakukan gerakan pencerahan dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiana universal, dan mewujudkan kehidupan perempuan berkemajuan dalam seluruh aspek kehidupan.

Pada kesempatan tersebut, Dicky Sofjan sebagai narasumber memaparkan pemikirannya yang bertajuk "Progressive women of Islam". Dicky mengungkapkan bahwa saat ini dunia mengalami crisis of spirituality, crisis of the family, crisis of identity/ethics, dancrisis of humanity. Krisis tersebut, tambah Dicky, merupakan tantangan tersendiri bagi organisasi perempuan seperti ‘Aisyiyah. Dengan begitu, menurut Dicky, penting bagi ‘Aisyiyah sebagai sebuah gerakan memiliki reform agenda atau agenda perubahan. Dicky menyebutkan beberapa poin penting dari karakter gerakan berkemajuan, yaitu dinamis, developing, reforming, advokasi, dan melakukan perubahan sosial.    

Selain itu, Dicky juga menyampaikan tentang pentingnya ‘Aisyiyah merumuskan role model  dari karakter perempuan Islam berkemajuan agar mengetahui siapa teladan sebenarnya yang dapat menjadi panutan sebagai perempuan muslim berkemajuan. Ia mencontohkan, bahwa perempuan muslim berkemajuan memiliki desired qualities,yaituperempuan yang cerdas, berani berbicara, melakukan gebrakan (lain dari yang lain atau inovasi), mandiri secara finansial, rendah hati namun memiliki karakter yang kuat. (NKA)