Klinik Sebagai Jalan Dakwah 'Aisyiyah - Muhammadiyah

21 Februari 2020 18:30 WIB | dibaca 174

Yogyakarta -- Klinik Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah adalah sebagai semangat perjuangan sejak Kiai Dahlan. Maka pengelola klinik maupun rumah sakit harus optimis karena memiliki inspirasi yang luar biasa, yaitu para pendahulu yang berpikiran ke depan. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini dalam Workshop Penguatan Amal Usaha ‘Aisyiyah dalam rangka Persiapan Akreditasi Klinik ‘Aisyiyah. Noordjannah melanjutkan bahwa klinik merupakan jalur dakwah ‘Aisyiyah maupun Muhammadiyah.

Dakwah pada umumnya dilakukan dengan dua jalur. Pertama, dakwah melalui komunitas masyarakat secara langsung, baik dengan dakwah bil haal, bil lisan, maupun melalui media sosial. Sementara jalur kedua adalah jalur yang dilalui Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dalam berdakwah, yaitu dakwah yang terinstitusionalisasikan.

“Dakwah terinstitusionalisasi itu adalah dakwah yang melalui lembaga,” ujarnya.

Dalam sambutan pengarahannya, Noordjannah mengajak para peserta untuk kembali membaca dan mencari tahu sejarah mengenai klinik. Noordjannah bercerita bahwa usia klinik pertama yang dibangun Muhammadiyah yang telah menjadi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta telah berusia 100 tahun. Usia genap satu abad sejak mulai berdiri pada tanggal 15 Februari 1920.

“Teman-teman dalam manajemen klinik atau Rumah Sakit perlu belajar lagi mengenai klinik. Klinik dibangun sejak Muhammadiyah berdiri yang dimulai tahun 1920. Sehingga agenda penguatan klinik ini memperingati 100 tahun klinik Muhammadiyah,” ceritanya disambut tepuk tangan peserta.

Noordjannah tidak ingin pengelola klinik mapun Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sama seperti menjalankan klinik lainnya.

“Klinik kita punya sejarah yang luar biasa. Waktu itu tahun 1920 Kiai Syuja bersama teman rombongannya mengusulkan membangun PKO atau Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) dan menjadi Kepala Divisi/Bagian PKO pertama di Muhammadiyah,” kenang Noordjannah.

Noordjannah menyampaikan bahwa nilai yang harus dibangun dalam menjalankan klinik maupun Rumah Sakit adalah memiliki semangat seperti Kiai Syuja dan Kiai Dahlan saat membangun PKO pertama kali. Memiliki nilai juang dan menjadikan klinik maupun Rumah Sakit sebagai jalur dakwah.

“Hal yang ingin kami sampaikan dalam penguatan klinik ini adalah menjadikan klinik sebagai lahan dakwah,” katanya.

Meskipun telah jauh berusia 100 tahun, klinik Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak menghilangkan prinsipnya dalam menolong umat, dengan menolong siapa saja tanpa melihat bangsa, agama dan lainnya, tulus atas nilai rahmatan lil ‘aalaamiin dan yang menjadi penting adalah bukan dengan tujuan untuk menjadikan mereka Muhammadiyah.

Workshop Penguatan Amal Usaha ‘Aisyiyah dalam rangka Persiapan Akreditasi Klinik ‘Aisyiyah sendiri diselenggarakan oleh Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah di Aula lantai dua, Kantor PP ‘Aisyiyah Jalan KH. Ahmad Dahlan nomor 32, Yogyakarta. Kegiatan ini diselenggarakan selama tiga hari sejak hari ini (21/2) hingga Minggu (23/2).

Workshop diikuti sebanyak 48 peserta yang terdiri dari perwakilan dari pengelola klinik atau Rumah Sakit yang didampingi perwakilan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) dari 9 provinsi.

Menurut laporan yang disampaikan Tresia Mahaputri Nusantari Maghfirah yang merupakan Ketua Panitia Workshop Penguatan Amal Usaha dan Persiapan Akreditasi, kegiatan dilaksanakan dengan metode ceramah, diskusi terkait dengan persiapan pelaksanaan akreditasi klinik ke depannya, dan problem solving terkait klinik.

Selain itu, agenda terakhir dari kegiatan tersebut adalah kunjungan ke Klinik Firdaus yang menjadi benchmark dari seluruh Indonesia.

Sebelum menutup sambutannya, Siti Noordjannah memberi pesan kepada Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah. “Saya percaya kepada Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat akan bersama-sama mendiskusikan apa yang bisa kita lakukan, bagaimana klinik yang sudah akan naik tingkat strateginya seperti apa, yang belum bekerjasama dengan BPJS seperti apa, dan sebagainya,” tutup Noordjannah sekaligus membuka secara resmi agenda workshop tersebut. (AAM)