Kader ‘Aisyiyah Jangan Hanya Jadi Penonton Pada Pemilu 2019

29 Oktober 2018 15:07 WIB | dibaca 86

SEMARANG – Rendahnya keterwakilan perempuan dalam pemilu 2009 dan pemilu 2014 yang hanya melibatkan calon legislatifDPR RI 34,7 persen pada tahun 2009 dan 37 persen pada tahun 2014. Sedangkan jumlah calon legislatifperempuan terpilih DPR RI tahun 2009 mencapai 18 persen dan pada tatun 2014 turun menjadi 17 persen.

Melihat rendahnya keterwakilan perempuan di pemilu legislatif, ‘Asiyiyah sebagai gerakan perempuan tidak boleh jadi penonton dalam pemilihan umum nanti pada 2019.

Hal itu disampaikan oleh Sri Gunarsih, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah saat memberikan motivasi kepada para kader ‘Aisiyah yang menjadi calon legislatif peremuan, pada Sabtu (20/10) di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah.

Sri Gunarsih dalam paparannya menyampaikan bahwa terjadi kesenjangan antara pencalonan perempuan dan perolehan kursi pada pemilu 2009 dan pemilu 2014.

“Pada pemilu 2009 pencalonan perempuan hanya 3.752 calon legislatif dari 11.143 calon anggota legislatif. Apalagi perolehan suara yang perempuan yang hanya mencapai 22,45 persen dan perolehan kursi perempuan di DPR RI hanya 101 kursi dari 560 kursi yang ada. Bahkan perolehan suara ini menurun pada pemilu 2014 yang hanya memperoleh 97 kursi dari 560 kursi,” jelasnya.

“Dari hasil data tersebut sudah seharusnya kader ‘Aisyiyah jangan hanya menjadi penonton bahkan hanya sebagai pelengkap penderita. Mengingat saat ini kaum perempuan diberikan ruang dan waktu yang sama dalam kontestasi pemilihan kepala daerah maupun anggot legislatif. Oleh karena itu, dalam pemilu 2019 perempuan harus berpolitik khusunya kader ‘Aisyiyah harus galakkan dengan mendoroang kader terbaiknya menjadi anggota legislative,” ungakap Sri Gunarsih di depan para peserta diskusi.

Menurut Sri Gunarsih yang juga Ketua Koordinator Majelis Tabligh PWA Jawa Tengah, bahwa kader ‘Aisyiyah yang terjun ke dunia politik harus kita dukung, setiap kader ‘Aisyiyah harus berjuang amar makruf dan nahi mungkar. Peluang positif bila kader ‘Aisyiyah berada di legislatif yaitu mampu menyampaikan aspirasi secara langsung untuk mendukung program amar makruf nahi mungkar ‘Aisyiyah. (Andi)

Sumber: Siti Nurhayati (PWA Jawa Tengah)

Sumber: muhammadiyah.or.id