Islam Berkemajuan Harus Dibaca Dengan Mindset Baru

17 Januari 2016 17:17 WIB | dibaca 892



 

Yogyakarta- Memasuki fase baru di abad 21, Muhammadiyah-‘Aisyiyah menghadapi masa yang berbeda dari periode awal persyarikatan didirikan. Banyak hal kontras yang bisa diidentifikasi agar Muhammadiyah-‘Aisyiyah bisa tetap berkontrbusi. Untuk membaca fase baru ini, Muhammadiyah-‘Aisyiyah harus memahami Islam Berkemajuan dan Gerakan pencerahan dengan “disket baru”. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam Rapat Kerja Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah di STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta, Sabtu (16/01).

“Tidak mudah dalam mengubah mindset. Dari disket lama ke disket baru itu tidak gampang karena harus ada proses transformasi pemikiran dalam diri kita. Tapi jika tidak ada perubahan mindset, kita tidak akan ikut mengalami peradaban baru,” ujar Haedar.

Menurut Haedar, Islam Berkemajuan adalah bentuk reaktualisasi gerakan yang diterjemahkan dari pemikiran KH. Ahmad Dahlan untuk mencandra gerakan-gerakan baru. Haedar memandang reaktualisasi gerakan merupakan suatu keharusan. Haedar mengatakan, “Agar kita tahu posisi kita, wacana ideologi kita juga diubah mindsetnya. Kepribadian kita, matan keyakinan kita jangan dibaca dengan disket lama. Dalam posisi ini (fase abad 21) Muhammadiyah sebagai moderat.”

Menurut Haedar, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengubah mindset tersebut. Di antaranya adalah membangkitkan kembali gerakan keilmuan. Haedar mengajak Muhammadiyah-‘Aisyiyah untuk kembali mulai membaca khasanah klasik. Haedar juga berharap Muhammadiyah-‘Aisyiyah menentukan sikap ideologi tengahan di tengah lalu lintas ideologi ekstrim yang ada. “Muhammadiyah menolak radikalisme baik berbasis keagamaan atau bukan karena itu sering bersifat merusak kehidupan, tetapi kita juga ingin radikalisme dilawan dengan modersi, bukam radikalisme lain,” tandar Haedar. (Mids)