Ijtihad Isu Perempuan Penting Terus Dikaji.

01 Januari 1970 12:19 WIB | dibaca 1149

Yunahar Ilyas saat menjadi Keynote Speech dalam FGD Pandangan Muhammadiyah Terhadap Perempuan di PP Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro (04/04/2015) Foto : Dzar Albana

 

Sekalipun Muhammadiyah memberikan ruang yang sama bagi perempuan, kajian tentang peran dan posisi perempuan di Muhammadiyah harus diperdalam kembali sesuai dinamika yang terjadi.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Noordjannah Djohantini dalam pembukaan seminar publik bertajuk Pandangan Muhammadiyah Terhadap Perempuan di STIKES Terpadu ‘Aisyiyah (05/04). Noordjannah menambahkan, hal itu karena ada pandangan lain yang menempatkan perempuan tidak pada posisi semestinya.

Sebelumnya, ‘Aisyiyah bersama Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar   Focus Group Discussion (FGD) pada Sabtu (4/4/2015). Dalam FGD tersebut, Yunahar Ilyas yang hadir sebagai Keynote Speech mengungkapkan bahwa Muhammadiyah sejak awal tidak memiliki masalah dengan kesetaraan gender. “Dari awal pendirian Muhammadiyah, Kyai Dahlan, punya perhatian terhadap perempuan.” Menurut Yunahar, Dahlan melakukan itu bukan tanpa alasan, karena Dahlan meneladani Nabi Muhammad untuk membuat majelis khusus yang berfungsi sebagai wadah pembinaan terhadap perempuan. Implemetasinya, kyai Dahlan, membuat pengajian khusus untuk perempuan yang diberi nama pengajian al-‘Ashr. Bahkan, tamban Yunahar, “Kyai Dahlan kala itu mendatangkan ulama dari Surabaya untuk menjadi teladan bagi murid perempuan agar berani tampil di ruang publik.

Dalam kesempatan yang sama, Tafsir, salah satu narasumber dalam Seminar Publik menyampaikan, dalam menafsirkan ayat dan hadist yang berkaitan dengan perempuan, Muhammadiyah harus berani dan tidak perlu takut dengan ijtihad. Menurutnya hal yang terpenting adalah, ijtihad dilakukan dengan cara yang benar dan sudah sesuai ketentuan.

Menurutnya, di Muhammadiyah belum ada bab resmi yang berisi rujukan tentang isu perempuan. Kitab Adabul Mar’ah yang dihasilkan dari hasil kajian sesuai konteks belum cukup karena masih di tingkat Munas dan belum menjadi HPT (Himpunan Putusan Tarjih). Dengan demikian, ijtihad terkait isu perempuan penting untuk terus dikaji.