Idul Adha Masa Pandemi, Perkuat Khazanah Islam Berkemajuan

11 Juli 2020 14:43 WIB | dibaca 191

“Kita ingin menunjukkan, berdasar prinsip keagamaan kita bahwa Islam harus menjadi solusi dalam menghadapi keadaaan pandemi Covid-19. Jangan sampai Islam dan kita, umat muslim justru menjadi bagian dari masalah dan menjadi masalah. Agama harus menjadi rahmatan lil alamin, dan memberi manfaat.” Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam Pengajian Bulanan Rutin Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan tema “Idul Adha di Masa Pandemi Covid-19”

Pada acara yang berlangsung secara daring hari Jumat (10/7) ini, Haedar Nashir menyampaikan tiga poin penting terkait refleksi keagamaan menyambut Idul Adha bagi warga, kader, anggota dan elit Persyarikatan.

Pertama, ia  warga Persyarikatan menunjukkan sikap keagamaan Muhammadiyah yakni menghadirkan Islam sebagai solusi dan rahmat untuk alam semesta dengan cara mematuhi semua pedoman dan edaran yang dikeluarkan oleh Muhammadiyah terkait Covid-19.

Kedua, bahwa hakikat ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara menjalankan syariat sesuai konteks. Sehingga, ibadah selama masa pandemi secara sukarela mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh Muhammadiyah. Ibadah harus berlangsung khusyuk dan hikmat, dalam rangka menghayati kembali makna taqarub Ilallah.

Sebagaimana diketahui, Muhammadiyah belum lama ini menyatakan bahwa selama kondisi darurat Covid-19, penyelenggaraan ibadah disarankan berlangsung di rumah atau lingkup terbatas. Selain itu, Muhammadiyah juga mendorong dan merekomendasikan supaya penyembelihan hewan kurban diganti dengan santunan kepada para dhuafa yang terdampak pandemi.

Haedar berharap supaya  semangat tolong menolong selama masa krisis pandemi ini menjadi sarana mendekatkan diri dengan Allah secara hakiki. Bagi warga Persyarikatan, praktik keagamaan harus bersesuain dengan semangat menghadirkan sikap ihsan dan rahmatan lil alamin.

“Jadi jangan sampai keluarga besar Muhammadiyah hanya terus berkutat dalam perdebatan rukun yang sifatnya darurat” himbau Haedar sembari menegaskan bahwa seluruh putusan dan edaran Persyarikatan telah memenuhi lima aspek Maqashid Syariah, terutama Hifzuddin (menjaga agama) dan Hifzunnafs (menjaga kehidupan).

Ketiga, Haedar berpesan bahwa hakikat dan tujuan beribadah adalah untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat melalui iman, ilmu dan amal salih.

“Semakin iman kita baik, amal kita juga baik. Ketika semua dikonversi, harusnya mempertebal iman kita dan memfungsikan bagi kehidupan sekaligus juga berbuah amal salih. Jangan sampai kita luruh. Waktu kita dihabiskan berdebat di medsos. Iman dan amal salih harus dimiliki sebagai kekuatan kita beragama. Jangan pernah ada setiap muslim baik warga, kader dan elit yang merasa hilang keberagamaannya. Padahal iman dan amal salih kita harus bertambah,” papar Haedar.

Terakhir, Haedar berpesan agar setiap warga, kader dan elit Persyarikatan dari pusat hingga ranting untuk memperkaya khazanah keislaman menggunakan pendekatan komprehensif yakni bayani (tekstual), burhani (penalaran ilmiah), dan irfani (reflektif). Termasuk dalam menghadapi aspek-aspek mendasar keagamaan maupun untuk kehidupan keseharian. Tujuannya tidak lain ialah supaya perspektif keagamaan menjadi lebih kaya, mendalam, dan luas.

“Pikiran menjadi lebih jernih dan komprehensif, tidak naif, atau bahkan tertinggal. Sejak dulu Muhammadiyah adalah pelopor penggunaan landasan ilmu pengetahuan dalam beragama. Tidak lupa juga untuk untuk isu-isu kebangsaan. Jangan sampai terjebak dalam pikiran parsial atau partisan dalam menghadapi kehidupan. Dalam membaca realitas, diperlukan pemikiran yang perlu tiga itu (bayani, burhani, dan irfani). Dengan tiga perspektif itu, insyaAllah Muhammadiyah, kader dan warganya berada pada garis terdepan dalam menghadapi masalah secara komprehensif sesuai dengan tuntutan yang harus kita pecahkan bersama,” pungkasnya. 

Sumber : muhammadiyah.or.id