Haedar Nashir Beri Imbauan Jelang Ramadan di Tengah Wabah Covid-19

04 April 2020 12:14 WIB | dibaca 239

 
YOGYAKARTA -- 20 hari mendatang, umat Islam di berbagai belahan dunia menunaikan ibadah puasa Ramadan. Selanjutnya merayakan suasana Idul Fitri di bulan Syawal pada tahun ini. Sementara kita berada dalam kondisi wabah Covid-19. Oleh karena itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah mengeluarkan Maklumat dan pandangan ke-Islamannya berkaitan dengan pelaksanaan ibadah Ramadan dan Idul Fitri.
 
Tunaikan ibadah puasa Ramadan bagi mereka yang mampu sebagaimana mestinya. Sebaliknya, ada kebolehan bagi mereka untuk tidak menunaikan ibadah puasa pada saat itu, yaitu bagi mereka yang sakit, tidak mampu, terlebih khusus tenaga-tenaga kesehatan yang karena pertimbangan untuk kekuatan daya tahan tubuh dalam melayani pasien Covid-19. Akan tetapi diharuskan mengganti dihari lain atau bagi yang sesuai syariat melakukan fidyah.
 
"Ibadah-ibadah lain seperti tarawih, jika sampai pada bulan Ramadan wabah Covid-19 masih belum reda, tunaikanlah di kediaman masing-masing. Begitu juga dengan ibadah-ibadah lain sebagaimana sholat Jum’at ditunaikan dalam bentuk sholat Dzuhur di tempat masing-masing," jelas Haedar.
 
Lebih dari itu, Haedar mengajak untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan untuk muhasabah (introspeksi diri), bulan untuk menambah kekhusyukan diri, kesalehan diri, dan bermunajat kepada Allah sambil terus kita berdo’a agar kita (bangsa Indonesia) dan umat manusia di seluruh dunia diringankan dan dikeluarkan dari musibah yang besar ini. 
 
"Sehingga kita dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab kehidupan sehari-hari sebagaimana biasa," ucap Haedar.
 
Berkaitan dengan Idul Fitri, dalam pandangan Islam ibadah sholat Idul Fitri di tanah lapang adalah Sunnah Muakkadah mengikuti jejak Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tetapi apabila sampai bulan Syawal wabah Covid-19 masih juga belum mereda, maka menurut Tarjih Muhammadiyah kita tidak perlu menunaikan Sholat Idul Fitri 
 
"Kegiatan-kegiatan lain, takbir keliling dan syawalan bahkan mudik juga tidak perlu dilakukan. Khusus berkaitan dengan mudik pertimbangkanlah protokol pemerintah juga pertimbangkanlah kondisi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat," jelas Haedar.
 
Prinsip dalam menghadapi situasi yang seperti ini adalah apa yang disunnahkan Nabi dalam hadistnya La Dharara wa Laa Dhirara, jangan berbuat sesuatu yang mudharat untuk diri sendiri, keluarga sendiri, atau juga menimbulkan kemudharatan bagi orang lain atau masyarakat luas. 
 
"Disinilah pentingnya menjadi panduan kita bersama," tegas Haedar.
 
Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengeluarkan kita dari musibah yang besar ini. Seraya dengan itu kita tetap bersyukur, sabar, tawakal, dan ikhtiar dalam menghadapi wabah Covid-19 ini sekaligus juga  menjadikan diri kita sebagai insan yang beriman, bertaqwa dan beramal saleh untuk kebajikan orang banyak.