Gerakan Infak untuk Kemandirian Organisasi

05 Desember 2015 17:23 WIB | dibaca 1028

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat meresmikan Gerakan Infak Anggota Muhammadiyah dalam Milad ke 106,
18 November 2015 di Yogyakarta (Fhoto : Dzar Albana)

 

Dalam resepsi milad Muhammadiyah ke 106 di Sportorium UMY pada 18 November 2015 lalu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. H. Haedar Nashir, M.Si secara resmi meluncurkan Gerakan Infak Anggota Muhammadiyah. Dalam pidato singkatnya, Haedar Nashir mengatakan, gerakan infak digagas untuk membangun kemandirian organisasi. “Setiap anggota akan menginfakkan uang sebesar Rp. 10000 setiap bulan. Ke depan akan dikelola oleh pimpinan wilayah. Dengan gerakan infak ini, Muhammadiyah benar-benar akan menjadi organisasi mandiri,” ujar Haedar.

Hal senada diungkapna Evi Sofia Inayati, Bendahara Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Menurutnya, gerakan infak penting untuk menopang kemandirian organisasi. “Jangan sampai tidak bisa bergerak tanpa ada bantuan,” tambah Evi.

Bagi Evi, gerakan infak dalam organisasi Muhammadiyah bukan hal baru. Muhammadiyah, sejak awal dirintis melalui gerakan swadana dari anggotanya. Bahkan gerakan infak di Muhammadiyah sudah menjadi tradisi yang dirintis oleh Ahmad Dahlan sejak organisasi didirikan. “ (awal) amal usaha berdiri juga dari infak mandiri anggotanya,” ujar Evi.

Amal usaha yang didirikan dari gerakan infak di antaranya adalah rumah sakit yang awal pendiriannya disebut sebagai PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem). Dalam buku Muhammadiyah 100 tahun Menyinari Negeri terbitan Majelis Informasi dan Pustaka PP Muhammadiyah disebutkan, PKO dirintis sejak tahun 1923 saat dokter muda dari Jawa tamatan Stovia Surabaya datang menghadap Ahmad Dahlan dan berniat membantu. Setelah itu, rumah sakit PKU Muhammadiyah resmi beroperasi hingga hari ini.

Evi menegaskan bahwa gerakan infak sampai hari ini masih menjadi tradisi di Muhammadiyah. Ia mencontohkan penghimpunan dana di ranting ‘Aisyiyah yang terjadi rutin dalam berbagai pertemuan.

“Penghimpunan dana itu terbukti menghidupkan ranting sampai bisa terus bergerak. Dan di lapangan, penghimpunan dana oleh ‘Aisyiyah lebih subur daripada Muhammadiyah, ” kata Evi.

Evi mengaku penghimpunan dana tersebut terjadi secara sukarela tanpa ada batasan nominal. Namun, penghimpunan dana tersebut masih belum terorganisir. Untuk itu, Evi menyambut baik gagasan Muhammadiyah menghidupkan kembali gerakan infak yang artinya akan ada pengelolaan secara sistematis.

“(Di Muhammadiyah) khan infak sudah menjadi kebutuhan untuk beramal saleh. Landasannya itu sedekah seperti teologi (al-ma’un) yang diajarkan oleh Ahmad Dahlan. Kita memang sudah memiliki amal usaha banyak, tapi itu belum cukup untuk gerakan dakwah Muhammadiyah yang sangat luas, ” papar Evi

Menurut Evi, sebagai ortom ‘Aisyiyah akan melihat terlebih dahulu mekanisme yang diterapkan oleh Muhammadiyah dalam gerakan infak. “Tapi semangat ini (gerakan infak) harus ditangkap oleh kita semua secara positif memandirikan organisasi,” pungkas Evi. (Mids)