Genap 100 tahun TK ABA Membentuk Karakter Islami

21 Agustus 2019 14:59 WIB | dibaca 191

Jakarta -- Taman Kanak-kanak (TK) 'Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) tahun ini genap berusia 100 tahun. TK ABA yang didirikan pada 1919 oleh 'Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah, bertekad untuk terus mendidik anak-anak bangsa.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini menyampaikan, didirikannya TK ABA seratus tahun yang lalu selaras dengan perkembangan gerakan 'Aisyiyah dalam memberikan perhatian kepada anak-anak dalam bidang pendidikan. "Keluarga harus mendidik anak-anaknya sejak dini, menjadikan anak-anak menjadi generasi yang kuat, maka Aisyiyah mengembangkan pendidikan anak (melalui TK ABA)," kata Noordjannah kepada Republika, Selasa (20/8).

Untuk memperingati usia TK ABA yang genap satu abad, diselenggarakan Seminar Internasional bertema "Elevating Quality of Early Childhood Education and Care". Seminar tersebut diselenggarakan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah HAMKA, Jakarta, pada 21-22 Agustus 2019.

Pada zaman sebelum kemerdekaan, kata dia, pendidikan diselenggarakan bukan oleh masyarakat pribumi, melainkan orang- orang Belanda. Orang pribumi yang mendapatkan akses pendidikan pun masih sedikit. Atas kondisi itulah, Aisyiyah hadir untuk memberikan pencerahan dan pendidikan kepada masyarakat luas sehingga banyak bumi putera bisa mengakses pendidikan.

'Aisyiyah berpandangan anak-anak harus mendapat pendidikan. Orang tua harus meletakkan nilai-nilai atau fondasi keislaman kepada anak-anak sejak usia dini. Nilai-nilai keislaman tersebut, di antaranya akhlak baik, komunikasi sosial yang baik, toleransi, mencintai sesama, dan cinta negeri. "Semua nilai-nilai itu menjadi bagian dari pendidikan anak usia dini di TK ABA," kata dia.

Dia mengatakan, TK ABA tidak hanya menanamkan dan membentuk fondasi nilai-nilai keislaman kepada anak-anak.TK ABA juga membantu mengembangkan kreativitas dan kemampuan kognitif anak-anak sesuai dengan usianya.

Dalam proses mendidik anak-anak di TK ABA, Noordjannah menegaskan, yang pertama kali dikuatkan adalah nilai-nilai dasar keislaman. Melalui nilai- nilai dasar keislaman, anak-anak akan memiliki fondasi yang kuat untuk menjalani kehidupan.

Ia menjelaskan, TKA ABA merupakan bentuk perjuangan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah saat Indonesia belum merdeka. Pada 1919 ketika pertama kali TK ABA dirintis, kata dia, sangat jarang remaja bumi putera yang bisa bersekolah, apalagi anak-anak usia dini.

"Pada masa itu pendidikan umum untuk anak-anak yang lebih remaja saja masih jarang untuk bumi putera, tapi Kiai Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan itu luar biasa memperhatikan perempuan remaja. Mereka disekolahkan di madrasah dan sekolah umum milik Belanda," ujar dia menjelaskan.

Sekolah umum kebanyakan diisi oleh orang-orang asing. Pendiri Muhammadiyah kemudian menyekolahkan murid-muridnya di sekolah madrasah dan umum agar menjadi kader. Kemudian, murid-murid Kiai Dahlan yang disekolahkan berkolaborasi sehingga mereka bisa berbagi ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.

Noordjannah menyampaikan, tantangan Muhammadiyah dan Aisyiyah melakukan dakwah dalam bidang pendidikan pada masa lalu tidak sederhana. Apalagi, banyak anak laki-laki dan perempuan belum mendapat sentuhan pendidikan apa pun dari keluarga mereka masing- masing. Berangkat dari kondisi itu, dimulailah dakwah dalam bidang pendidikan hingga melahirkan TK ABA.

Tantangan di Era Digital

Tantangan TK ABA tidak berhenti sampai di sana. Muncul tantangan baru di era digital seperti saat ini. Noordjannah menjelaskan, di era digital anak- anak sudah sangat familier dengan teknologi informasi. Anak- anak sekarang mudah sekali bersentuhan dengan gawai.

 

"Maka, kita harus mengarah kan dan membimbing anak- anak agar bisa memanfaatkan IT di era digital ini untuk hal-hal yang positif," kata Noordjannah.

Menurut dia, saat ini anak- anak balita bahkan sudah banyak yang mengenal gawai.Tanpa bimbingan yang baik dan benar dari orang tua, dampak dari gawai bisa mengkhawatirkan.

Ada tiga pilar penting untuk anak-anak, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ia mengatakan, anak-anak harus dipastikan mendapatkan pela jaran yang positif di sekolah. Selain itu, harus dipastikan keluarga dan masyarakat bisa memberikan lingkungan serta makna yang positif bagi anak-anak.

"Maka, sinergi pendidikan dan pembimbingan di sekolah dan di keluarga menjadi sangat penting, terutama bagi anak- anak usia dini ini," ujarnya.

Untuk menghadapi tantangan di era digital, pendidikan 'Aisyiyah sejak awal berfondasi pada nilai-nilai dasar keislaman. Tujuannya untuk memberikan bekal kepada anak- anak sehingga bisa menjadi insan kamil.

Di TK ABA, anak-anak usia dini dikenalkan dengan ibadah- ibadah dan dibiasakan melaksanakan ibadah.

Kemudian, dikenalkan tentang penciptaan dan diajari cara berhubungan yang baik dengan sesama teman, termasuk diajarkan sikap disiplin.

"Tentu juga diajarkan hal-hal yang berkaitan dengan akhlak bagaimana sikap terhadap orang yang lebih tua, sikap terhadap orang tua, dan sikap terhadap guru. Diajari mencintai sesama, Tanah Air, dari situlah kita membangun karakter anak- anak di TK ABA, semua itu merujuk pada Alquran," kata Noordjannah.

Saat ini, TK ABA sudah ada di semua provinsi di Indonesia.Berdasarkan catatan tahun 2018, jumlah TK ABA kurang lebih mencapai 20 ribu. TK ABA ter sebar di berbagai pelosok. Bahkan, di daerah mayoritas non-Muslim pun berdiri TK ABA. Siswa- siswinya juga ada yang non-Muslim. (ed: satria kartika yudha)

Sumber: republika.co.id