Gebyar Pra-Muktamar ke-48, 'Aisyiyah eks Karesidenan Pekalongan Gelar Diskusi Panel

19 Maret 2020 15:37 WIB | dibaca 120

Pemalang -- Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) se-eks Karesidenan Pekalongan menyelenggarakan pertemuan koordinator dan diskusi panel dalam rangka gebyar pra-Muktamar Muhammadiyah ‘Aisyiyah ke 48. Pertemuan koordinator se-eks Karesidenan Pekalongan sendiri rutin diadakan setiap tiga bulan sekali. Pertemuan koordinator tersebut diadakan secara bergantian dari PDA yang ada di lingkup wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

Pertemuan koordinator pertama di tahun 2020 diadakan di Gedung Dakwah Muhammadiyah, jalan Merbabu, Pemalang pada hari Minggu (15/3). Selain anggota ‘Aisyiyah, kader Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) dan Ikatan Guru TK ABA (IGABA) yang merupakan utusan dari Kabupaten Batang, Pekalongan, Kota Pekalongan, Pemalang, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes turut meramaikan acara tersebut.

Sambutan pertama disampaikan oleh Amiroh, Ketua PDA Pemalang selaku tuan rumah dan sambutan seanjutnya oleh Ketua Koordinator se-eks Karesidenan Pekalongan, Rumainur selaku penyelenggara.

“Pertemuan rutin koordinator ini dapat dijiadikan ajang silaturrahim yang bermanfaat,” tutur Amiroh.

Amiroh menyampaikan bahwa selain pertemuan koordinator juga akan dilaksanakan Diskusi Panel sebagai acara dalam rangka gebyar syiar Muktamar ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah ke 48. Diskusi Panel tersebut mengangkat tema “Busana Muslim/Muslimah sesuai Tarjih.” Ia berharap diskusi panel sebagai kegiatan pra-Muktamar ke 48 tersebut dapat memberikan motivasi kepada para peserta.

“Melalui diskusi nantinya diharapkan bisa memotivasi dan menyemangati para anggota ‘Aisyiyah, NA, dan IGABA untuk meningkatkan wawasannya tentang berbusana yang sesuai syariat Islam,” ucapnya.

Rumainur dalam sambutannya mengimbau agar warga ‘Aisyiyah menerapkan budaya menghormati dan menghargai etika amalan dalam al-Qur’an dan budaya yang lain sehingga amalan yang dilakukan sesuai Tarjih.

Menurut Rumainur penting untuk mensosialisasikan pemahaman keputusan Tarjih tentang berbusana bagi warga persyarikatan.

“Penting untuk memahami dan menerapkan berbusana sesuai ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah dalam kehidupan sehari-hari, sebab kenyataan di masyarakat masih banyak yang belum berbusana sesuai dengan qaidah syar’i,” pungkasnya.

Sementara itu, acara diskusi panel menghadirkan Dr. H. Ali Trigiyatno, M.Ag., dan Sapto Suhendro, S.Ag., M.Pd sebagai narasumber. Keduanya menyampaikan tentang berbusana bagi muslim dan muslimah yang dianjurkan Tarjih.

“Allah melalui firman-Nya dalam surat al-Ahzab ayat 53 memerintahkan kaum perempuan untuk mengenakan jilbab dan menutup auratnya,” tutur Ali.

Ada berbagai macam cara perempuan berbusana, kata Ali, tetapi terdapat empat syariat yang harus dipenuhi yaitu pertama, menutup aurat dari ujung rambut sampai ujung kaki selain wajah dan telapak tangan. Kedua, busana tidak ketat sehingga tidak tampak lekuk-lekuk tubuhnya. Ketiga, busana tidak tembus pandang. Keempat, busana sopan, pantas, sederhana, dan nyaman.

Para peserta antusias ditunjukkan dengan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai cara berbusana yang dilihat di lapangan.

“Namun demikian tetap saja harus pandai-pandai dalam memilih busana agar tetap syar'I dan tidak perlu mengomentari secara vulgar terhadap muslimah lain yang berbusananya belum syar'I, tetapi mengajak secara halus,” kata Sapto di akhir diskusi. (AAM)