Figur Presiden Pilihan Perempuan

08 Juni 2014 10:15 WIB | dibaca 805

Jelang pemilihan presiden yang tinggal menghitung hari, pengamat politik, Chusnul Mar’iyah, mengingatkan kembali akan fungsi Ulil Amri (pemimpin) atau untuk apa diperuntukkan kekuasaan negara. Hal tersebut disampaikan Chusnul dalam forum Tanwir ‘Aisyiyah II di Stikes ‘Aisyiyah Surakarta (7/6), yang dihadiri oleh seluruh pimpinan ‘Aisyiyah dari 33 provinsi dan diselenggarakan. Menurut Chusnul yang juga menjadi Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah, tugas utama negara adalah menyejahterakan dan membahagiakan rakyatnya, sambil kemudian bertanya apakah saat ini warga negara Indonesia sudah sejahtera dan merasa bahagia.

Perempuan yang pernah menjadi anggota KPU ini berharap agar perempuan berhati-hati dalam memilih calon pemimpin negaranya. Perempuan diminta untuk lebih jeli membaca visi dan misi maupun rencana program masing-masing calon presiden, khususnya berkaitan dengan kepentingan perempuan dan anak, “Siapa yang akan melindungi perempuan miskin termasuk para buruh migran yang memang menjadi tanggung jawab negara untuk mengayomi warganya,” ujar Chusnul terkait kriteria calon presiden yang dapat dipilih perempuan.

Apalagi, tambahnya, saat ini jumlah perempuan yang terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) justru berkurang menjadi 14 persen dari perolehan 5 tahun sebelumnya sebesar 18 persen dari total jumlah anggota DPR hasil pemilu 2009. Dalam analisa Chusnul, berkurangnya jumlah perempuan sebagai anggota DPR akan berdampak pada minimnya kebijakan yang tidak berpihak pada kebutuhan perempuan. Meski ia sendiri mengakui, besarnya hambatan perempuan masuk di dunia politik, di tengah liberalisasi politik uang. Walau begitu, pengajar di Universitas Indonesia ini menaruh harapan agar kaum perempuan tidak bersikap apatis dengan ‘DUIT’ atau bahasa Jawa dari ‘uang’, karena rupanya yang dimaksud Chusnul dengan ‘DUIT’ adalah, ‘Doa, Usaha, Istiqomah, dan Tawakkal.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, menekankan pentingnya ‘Aisyiyah menyiapkan SDM ‘Aisyiyah yang akan berjuang melalui partai politik, “Anggota ‘Aisyiyah yang punya kemampuan dan orientasi ke dunia politik perlu didukung dan dikuatkan, karena perjuangan ke sana juga dalam kerangka perjuangan Muhammadiyah-’Aisyiyah,” ujar Noordjannah.(HNS)