Dukung UMKM Naik Kelas, Teten Pergunakan Pendekatan Komunitas

16 November 2019 20:02 WIB | dibaca 357

 
Transformasi ekonomi mendesak dilakukan supaya struktur ekonomi berubah. Ekonomi Indonesia bukan lagi hanya dikuasai segelintir orang tetapi lebih adil. Hal tersebut disampaikan Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UMKM, saat menjadi narasumber dalam Tanwir II ‘Aisyiyah, di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (16/11). Teten sendiri berharap dapat bersinergi lebih kuat dengan ‘Aisyiyah, “Pengalaman pemberdayaan ekonomi di Indonesia maupun di berbagai negara, justru kemitraan pemberdayaan ekonomi yang berhasil dijalin adalah yang melibatkan perempuan.
 
 
Sumbangsih ekonomi rakyat dalam perekonomian Indonesia sangat besar, ungkap Teten. PDB Indonesia, sebanyak 60 persen berasal dari ekonomi rakyat.  Selain itu, dari total tenaga kerja di Indonesia, 97% justru diserap oleh UMKM. Hanya saja, total eksport Indonesia baru sekitar 14 persen, dibanding Thailand sudah sebesar 28%, bahkan China mencapai 70 persen. Teten berharap, UMKM dapat ditingkatkan kelasnya, dari mikro ke kecil, dari kecil ke menengah, dan usaha menengah naik kelas. 
 
 
Program pembiayaan UMKM sendiri menyebar di beberapa kementrian. Teten menyebut Kementrian Lingkungan Hidup, Kementrian Pertanian dan Perikanan, dan Kementrian Pedesaan. Oleh karena itu, ungkap Teten, akan diupayakan konsolidasi agar program penguatan ekonomi UMKM lebih terarah.  Meski begitu, Teten memahami berbagai problem yang dialami oleh UMKM, seperti Sumber Daya Manusia, manajemen, pembiayaan, institusi, hingga pasar yang harus dijawab.
 
 
Menjawab problem tersebut, Teten memaparkan lima (5) arah kebijakan pemberdayaan ekonomi, pertama, pengembangan koperasi dan UMKM yang dilakukan dengan pendekatan komunitas atau kluster, seperti  sentra produksi, kluster sesuai komoditas, dan wilayah. Pendekatan kelompok dipilih, ungkap Teten, karena berdasarkan evaluasi dari OJK dan BI, penyaluran KUR selama ini berlangsung lambat. Dengan pendekatan komunitas, menurut Teten, program-program pemberdayaan ekonomi diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pelaku UMKM dan mempercepat peningkatan kualitas UMKM. Ia memberi ilustrasi, semisal terdapat pengrajin batik atau produk lainnya di satu kampung, dapat diorganisir melalui kelompok maupun koperasi, sehingga akses permodalan, akses teknologi, dan akses pasar dapat menjangkau lebih banyak UMKM. 
Kedua, prioritas pemberdayaan koperasi pada sektor riil, tidak lagi semata ke Koperasi Simpan Pinjam tetapi ke sektor riil. Teten berharap, produk UMKM dapat bersaing sebagai produk eksport maupun berkompetisi dengan produk import dari luar negeri. Sayangnya produk UMKM belum disiapkan agar dapat berkompetisi dengan produk import maupun eksport. Ketiga, pemberdayaan dilakukan secara lintas sektoral. Keempat, pemberdayaan UMKM sesuai dengan karakteristik dan level UMKM. Kelima, modernisasi kelembagaan dan teknologi. 
Menurut Teten, UMKM harus masuk dalam supply change. Sebagai dampak UMKM belum masuk dalam supply change, Teten mencontohkan, UMKM mengalami kesulitan untuk mendapat bahan baku yang murah. Sedangkan industri besar dapat menikmati harga bahan baku lebih murah. Demikian halnya terkait infrastruktur pendukung, “Oleh karena itu harus ada pengarusutamaan pembangunan bagi rakyat.” 
 
 
Teten sempat menyinggung tentang rencananya melahirkan usahawan baru. “Saya mau bikin gerakan, mendorong koperasi di mahasiswa dengan model baru.” Tak hanya itu, Teten menyebut lima (5) program utama penguatan ekonomi rakyat. Beberapa program tersebut antara lain akselerasi pembiayaan dan market driver. Teten menegaskan bahwa akses pasar produk UMKM harus diperbesar bukan hanya di dalam tetapi juga hingga ke luar negeri. Dalam hal ini, pemerintah akan membantu produk unggulan UMKM untuk mendapatkan sertifikasi. Teten mencontohkan, terdapat produk UMKM seperti keripik dari NTT yang mendapatkan sertifikasi tingkat global karena dalam produksinya memiliki dampak sosial tinggi dan nilai ekologis. Teten melihat pentingnya market intelligence antara lain untuk mengidentifikasi produk-produk bernilai tinggi yang disukai pasar. 
 
 
Dalam program penguatan ekonomi rakyat berbasis kelompok ini, Teten berharap, ‘Aisyiyah dapat bersinergi melalui komunitas atau kelompok yang dikelola oleh ‘Aisyiyah. Selain itu, ‘Aisyiyah dapat menjadi pendamping agar akses tersebut disalurkan secara tepat penggunaannya. ‘Aisyiyah sendiri menyambut baik upaya sinergi tersebut. Latifah Iskandar, Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah yang membidangi ekonomi, menyampaikan bahwa ‘Aisyiyah sendiri telah lama menginisiasi program pemberdayaan ekonomi perempuan, melalui lebih dari 786 Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah (BUEKA), pendampingan kelompok tani perempuan, dan 437 koperasi yang tersebar di seluruh Indonesia baik koperasi sekunder maupun koperasi primer yang tersebar di desa-desa.
 
 
Sejalan dengan program melahirkan wirausahawan baru, ‘Aisyiyah sendiri telah menyelenggarakan Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah dengan 1500 warga belajar hingga Klinik Usaha Keluarga ‘Aisyiyah. Apa yang disampaikan Teten terkait pendekatan komunitas dalam pemberdayaan ekonomi UMKM, Latifah menyampaikan bahwa ‘Aisyiyah siap bersinergi karena pendekatan komunitas memang menjadi pendekatan yang digunakan dalam program pemberdayaan ekonomi ‘Aisyiyah.