Cerita Sejarah di Balik Batik Hijau Nasional 'Aisyiyah

03 Oktober 2017 00:25 WIB | dibaca 172

Di 'Aisyiyah seragam bukanlah barang baru. Jika diperhatikan dalam berbagai dokumen, salah satunya dalam kongres ke- 17 di Yogyakarta, nampak perwakilan 'Aisyiyah termasuk Nyai Siti Walidah mengenakan kerudung songket yang kala itu dikenal sebagai kerudung khas anggota 'Aisyiyah.

Seragam batik berbahan dasar yang kini jadi baju resmi kegiatan 'Aisyiyah pertama kali diputuskan pada muktamar 'Aisyiyah, 1965, di Bandung. Putusan tersebut hanya mengatur warna baju hijau dan kerudung kuning. Pada muktamar 'Aisyiyah berikutnya, 1968, di Yogyakarta, seragam yang dikenakan peserta malah tidak tampak sama, tapi beraneka ragam jenis warna, hijau dan kerudung kuning, entah hijau daun, hijau tua, hijau muda, atau warna hijau lainnya. Keputusan tentang seragam akhirnya dicabut.

Setelah orde baru, semakin banyak organisasi perempuab macam Dharma Wanita dan PKK yang sudah menetapkan seragam masing-masing. Warga 'Aisyiyah pun beramai-ramai mengusulkan kembali pembahasan seragam organisasi yang disambut dengan diterbitkannya kembali surat putusan seragam oleh Pimpinan Pusat 'Aisyiyah untuk mengakomodasi usulan. Aspirasi itu terutama muncul setelah para pimpinan 'Aisyiyah semakin sering mendapat undangan, dan teetera di dalam undangan agar mengenakan seragam masing-masing organisasi.

PPA merespon baik usulan seragam itu, sampai kemudian Wardanah sebagai penasihat, mempertemukan PPA dengan Drs. Suharjo, kakaknya yang notabene adalah Kepala Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Kakaknya kerap membawa desain batik, hasil pekerjaan murid-murid SMSR yang sebagian  besar bermotif bagus. Wardanah lantas menawarkan untuk membuat desain batik seragam 'Aisyiyah. Bertempat di Rumahnya, di Kotagede, Suharjo mendesain batik seragam 'Aisyiyah di depan Wardanah dan anggota PPA yang lain. Tak perlu waktu lama, setelah diperbagus, desain itu dibawa ke rapat PPA, dan disetujui sebagai desain seragam 'Aisyiyah.

Batik dipilih dengan pertimbangan kekhasan Yogyakarta, kota lahirnya 'Aisyiyah, sedangkan desain batik dengan mencantumkan  tulisan 'Aisyiyah dan warna hijau-kuning, adalah identitas warna 'Aisyiyah. Akhirnya pada Muktamar 'Aisyiyah di Solo tahun 1985, seragam tersebut ditetapkan sebagai seragam nasional dan pertamakali resmi dipakai pada Muktamar selanjutnya yang berlangsung di Yogyakarta tahun 1990. (Disarikan dari esai Serba-Serbi Seragam Nasional 'Aisyiyah di Suara 'Aisyiyah karya Hajar Nur Setyowati.)