Cegah Stunting, PP ‘Aisyiyah Tegaskan "Susu" Kental Manis Berbahaya Bagi Bayi

27 November 2019 13:52 WIB | dibaca 105

JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah bersama dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) memaparkan penelitian bahwa Susu Kental Manis (SKM)/Krimer Kental Manis (KKM) berbahaya bagi balita. Hal tersebut disampaikan di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta pada Selasa (26/11) dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional 2019.

Di hadapan Kemenkes, KPAI, KPI, dan BPOM, Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Chairunnisa, memaparkan temuan mengejutkan adanya kaitan gizi buruk dan kurang gizi pada usia bayi dan balita yang rutin mengkonsumsi SKM/KKM.

“Dari 1835 anak yang terdata disimpulkan 14,5% anak disimpulkan mengalami gizi buruk dan 29,1% mengalami kurang gizi,” papar Chairunnisa.

Karena itu, dirinya berharap elemen pemerintah yang hadir menjadikan hasil penelitian lapangan yang dilakukan YAICI bersama PP ‘Aisyiyah sebagai bahan kajian kebijakan dalam rangka mengatur produsen SKM yang tidak peduli akan hal itu sekaligus melindungi generasi bangsa.

Tingginya angka balita dengan gizi bermasalah akibat SKM adalah dikarenakan iklan yang tidak informatif dan manipulatif bahwa SKM adalah susu. Padahal SKM adalah pemanis buatan untuk bahan pelengkap jajanan/kue sehingga tidak baik bagi kesehatan bayi, sedangkan susu adalah cairan hewani yang diproduksi oleh mamalia dan mengandung protein. Selain itu, SKM murah dan mudah didapat.

“Positifnya, setelah mendapatkan edukasi, 71% orangtua berhenti memberikan SKM pada bayinya,” imbuh Chairunnisa.

PP ‘Aisyiyah bersama YAICI berharap pemerintah mempertegas saran konsumsi SKM bagi balita dipertegas dari usia 0-12 bulan menjadi 0-24 bulan, artinya sebelum mencapai usia 24 bulan bayi dilarang meminum SKM dan wajib diberikan ASI.

Kajian Kebijakan dan Kebiasaan Konsumsi Susu Kental Manis Pada Anak-anak dilakukan selama bulan September hingga Oktober 2019 di tiga provinsi dengan melibatkan 2096 responden. Setiap provinsi mengambil tiga kabupaten kota yakni: Provinsi Aceh (Banda Aceh, Pidie, Aceh Tengah), Provinsi Sulawesi Utara (Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, Manado), dan Provinsi Kalimantan Tengah (Palangkaraya, Kota Waringin Timur, Barito Timur). (afandi)

Sumber: muhammadiyah.or.id