Berpakaian Tanpa Mereduksi Paham Islam Berkemajuan

07 September 2016 03:34 WIB | dibaca 944

Penggunaan kata hijab yang popular dipakai untuk merujuk pada penggunaan kerudung dinilai tidak tepat. Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi tentang Jilbab yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah di Ruang Pertemuan PP ‘Aisyiyah, Yogyakarta (3/09).

Wawan Gunawan, dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, mengatakan bahwa dalam al-Qur’an kata hijab tidak digunakan untuk penggunaan kerudung dan perempuan muslimah. Dosen Universitas Islam Negeri Yogyakarta ini mencontohkan 3 ayat yang menggunakan kata hijab. Dua di antaranya, pertama, Qs. al-A’raf: 46, untuk menunjukkan dinding pembatas antara penduduk surga dan neraka. Kedua, QS. al-Maryam: 16-17, kata hijab merujuk pada penghalang yang dipakai Maryam untuk melindungi dirinya saat ia menjauhkan diri dari keluarga.

Dalam al-Qur’an, Wawan mengungkapkan, terdapat dua kata yang digunakan untuk merujuk pada penutup kepala maupun badan, yaitu jilbab dan khimar, yang masing-masing kata tersebut memiliki arti berbeda. Ia menjelaskan, terdapat beberapa pengertian jilbab, dan secara umum adalah kain yang menutup semua badan perempuan. Sedangkan kata khimar, adalah kata bahasa Arab yang di dalam bahasa Indonesia disebut sebagai kerudung, yaitu menutupi kepala perempuan.

Menurut Wawan, pembahasan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tentang jilbab atau pakaian salah satunya telah termuat dalam Adabul Mar’ah fil Islam yang dikeluarkan tahun 70-an yang memuat tentang prinsip dan kegunaan berpakaian. Namun Wawan mengingatkan tentang pentingnya pakaian takwa sebagai pakaian harus dikenakan dalam hati manusia.

Selain itu, ia juga menyampaikan tentang kepatutan atau kepantasan sebagai bagian dari prinsip berpakaian. Sehingga menurutnya perempuan yang bekerja di ladang  tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan perempuan yang bekerja di sector lainnya, seperti di kantor misalnya. Kewajaran, tidak berlebihan, dan tidak ada unsur memamerkan juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan sebagai prinsip berpakaian. Wawan menyayangkan kecenderungan berpakaian muslimah saat ini yang justru berlebihan dan berbiaya mahal. Begitu pula dengan pelabelan ‘syar’i’ pada pakaian ‘hijabers’ yang saat ini sedang menjadi tren dan anggapan pakaian lain tidak sesuai dengan syar’i.

Diskusi tentang Jilbab ini sendiri yang diselenggarakan oleh PP ‘Aisyiyah, ujar Noordjannah Djohantini, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, berangkat dari keresahan atas pemahaman ajaran keagamaan tentang berpakaian yang dapat mereduksi paham Islam berkemajuan Muhammadiyah. Noordjannah menambahkan, keresahan ini dikarenakan pemahaman tersebut dapat berdampak lebih luas tidak hanya tentang kerudung tapi mereduksi paham Islam berkemajuan tentang perempuan dalam Islam. Ia berharap, para pimpinan ‘Aisyiyah menaruh perhatian pada situasi ini karena dapat berdampak pada kemunduran dari paham Islam berkemajuan yang telah menjadi landasan gerak Muhammadiyah selama ini. (HNS)