Berbagai Pihak Beri Dukungan SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo

17 Februari 2020 09:35 WIB | dibaca 124

JAKARTA – Berbagai pihak menanggapi kasus yang terjadi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Butuh, Purworejo. Salah satu di antaranya Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti. 

Mu’ti bercerita, bahwa SMP Muhammadiyah Butuh telah berdiri tahun 1989. Pada awalnya jumlah siswanya cukup banyak. Berdirinya sekolah negeri berdampak pada berkurangnya siswa.

“Tetapi SMP Muhammadiyah Butuh tetap berprestasi dan banyak alumninya berhasil dalam karir professional,” terang Mu’ti pada Jum’at (14/2).

Dalam kasus ini, SMP Muhammadiyah Butuh menerima tiga siswa pindahan yang dikeluarkan dan ditolak oleh sekolah lain.

“Dengan segala keterbatasan dan komitmen melayani masyarakat anak-anak "bermasalah" tersebut diterima dengan harapan dapat dibina dengan baik,” tuturnya.

Mu’ti menegaskan, bahwa menjadi ketidakadilan apabila terjadi satu kasus yang mengakibatkan sekolah ditutup.

“Kalau mau dibuka, kekerasan di sekolah masih banyak terjadi termasuk sekolah negeri. Apakah pemerintah akan menutup sekolah-sekolah itu?,” tegas Mu’ti.

Diakhir, Mu’ti mengatakan bahwa, masih ada masalah dan kekurangan itu tidak bisa dipungkiri.

“Itulah yang menjadi tugas kita bersama. Sebaiknya para pejabat pemerintah memahami masalah secara komprehensif dan tidak mengambil kebijakan yang emosional,” tutupnya. Sementara itu, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purworejo 

Sementara itu, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purworejo telah menggapi kasus di SMP Muhammadiyah Butuh, Purworejo tersebut dengan mengeluarkan pernayataan sikapnya pada (14/2) lalu.
 

PERNYATAAN SIKAP

PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH PURWOREJO

DAN MAJELIS DIKDASMEN PIMPINAN WILAYAH MUHAMMADIYAH JAWA TENGAH

TENTANG VIDEO VIRAL yang TERJADI DI SMP MUHAMMADIYAH BUTUH PURWOREJO

 

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Purworejo dan Majelis Dikdasmen Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, dengan ini menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Menyatakan prihatin atas kejadian di SMP Muhammadiyah Butuh Purworejo sebagaimana disaksikan dalam video yang telah viral di media sosial.

2. Peristiwa tersebut bukan menunjukkan karakter yang terbentuk di SMP Muhammadiyah Butuh, dikarenakan ketiga siswa tersebut merupakan siswa pindahan yang baru masuk di kelas 8 dari sekolah lain.

3. Bagi SMP Muhammadiyah Butuh yang telah berdiri sejak tahun 1989 dan telah melahirkan banyak alumni yang tersebar menjadi tokoh, peristiwa ini merupakan sesuatu yang tidak kita kehendaki.

4. Dengan kejadian ini, kami bertekad untuk menata ulang dan merevitalisasi sekolah tersebut dengan pola baru, menjadi Sekolah Inklusi berbasis karakter dan ramah anak. Program ini akan bekerja sama dengan Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Purworejo.

5. Penyelesaian masalah ini diupayakan dengan tetap mengedepankan hak-hak perlindungan anak, mengingat pihak-pihak yang terlibat masih di bawah umur.

6. Kami bersama ‘Aisyiyah akan bekerja sama dengan berbagai pihak yang berkompeten melakukan pendampingan dalam upaya penanganan perlindungan perempuan dan anak.

7. Muhammadiyah telah berkiprah dalam mendidik dan memajukan kehidupan bangsa di seluruh pelosok tanah air, sebagi bentuk peran kebangsaan yang konstruktif. Muhammadiyah akan terus berkiprah dan menyadari setiap langkah membangun bangsa akan selalu ada masalah dan tantangan yang harus dihadapi dengan gigih, kerja keras dan bertanggung jawab, akrenanya dukungan dan kerjasama dengan semua pihak terus dilakukan.

8. Kami menghimbau kepada semua pihak untuk menjadikan peristiwa ini sebagai momentum perbaikan pendidikan, karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama para orang tua, pemerintah dan masyarakat.

Semarang, 20 Jumadil Akhir 1441 H

14 Februari 2020 M