Aktualisasikan Risalah Pencerahan, 'Aisyiyah Terus Berperan Atasi Persoalan Bangsa

18 Mei 2019 16:21 WIB | dibaca 209

 

Mengangkat tema “Aktualisasi Risalah Pencerahan untuk Dakwah Melintas Batas” Pengajian Ramadan 1440 H Pimpinan 'Aisyiyah (18/5) ingin memperdalam Risalah Pencerahan hasil Keputusan Tanwir Muhammadiyah 2019 di Bengkulu melalui berbagai isu yang sangat dekat dengan dakwah ‘Aisyiyah. Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Siti Noordjnnah Djohantini, melalui pengajian ini 'Aisyiyah ingin menguatkan dakwah yang bersifat melintas batas yang merangkul masyarakat dari semua etnis, suku, bahkan agama.

Dalam Risalah Pencerahan, Noordjannah menyampaikan bahwa Muhammadiyah yang berpandangan Islam berkemajuan harus mampu memberikan pencerahan dari kondisi yang gelap dengan fondasi tauhid. “Kedekatan bertauhid kita, menurut Muhammadiyah dalam konteks pencerahan adalah memang menghambakan diri kita kepada Allah Tetapi saat kita menghambakan kepada Allah, maka pada saat itu juga kita sebenarnya sedang bergelut untuk memanusiakan manusia menjadi hamba yang mulia,” ujar Noordjannah.

Noordjannah menekankan poin dari Risalah Pencerahan yakni beragama yang mencerahkan mengembangkan pandangan, sikap, dan praktik keagamaan yang berwatak tengahan (wasathiyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat martabat kemanusiaan laki-laki maupun perempuan, menjunjung tinggi keadaban mulia, dan memajukan kehidupan umat manusia yang diwujudkan dalam sikap hidup amanah, adil, ihsan, toleran, kasih sayang terhadap umat manusia tanpa diskriminasi, menghormati kemajemukan, dan pranata sosial yang utama sebagai aktualisasi nilai dan misi ramhatan lil-‘alamin.

Menurut Noordjannah beragama yang mencerahkan harus menjadi pedoman bagi para pimpinan dan anggota Muhammadiyah ‘Aisyiyah serta menjadi pengetahuan masyarakat luas. Beragama yang mencerahkan disampaikan oleh Noordjannah juga harus menghadirkan risalah agama yang memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan. “Sebagai pimpinan kita harus melek terhadap berbagai persoalan, melalui dakwah kita memberikan solusi terhadap berbagai persoalan,” ujarnya. Lebih lanjut, Noordjannah mengajak segenap pimpinan dan anggota ‘Aisyiyah untuk bergerak membuat sejarah. “Mari kita membuat sejarah dengan terus menyemaikan dan memperluas dakwah kita untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan terutama di Indonesia.”

Risalah Pencerahan Muhammadiyah yang memiliki 8 poin menurut Noordjannah sudah diaktualisasikan oleh ‘Aisyiyah, hanya saja ia menyampaikan kepada para peserta agar tidak berpuas diri karena pada kenyataanya masih banyak persoalan yang dialami oleh masyarakat. “’Aisyiyah harus berperan untuk terus mengawal kehidupan keumatan dan kebangsaan.” (Suri)