'Aisyiyah Transformasikan Nilai-Nilai Risalah Pencerahan dengan Pengembangan Gerakan Keilmuan

15 Mei 2019 09:44 WIB | dibaca 114

BANTEN -- Sebagai unit terkecil dari institusi sosial maupun keluarga khususnya, Ibu adalah Al-ummu madrasatul ula atau sebagai sekolah pertama. Peran ibu atau perempuan adalah sebagai supplier pemimpin bangsa sekaligus murabbi dan muaddib bagi putra dan putrinya. Namun di masa kini dalam cepatnya pergeseran zaman, institusi keluarga sulit mempertahankan posisinya sebagai tempat awal menyemai nilai-nilai moral dan perjuangan.

Hal tersebut dikemukakan oleh Masyitoh Chusnan, Ketua Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah ketika memaparkan materi tentang Transformasi Nilai-nilai Pencerahan dalam Kemajuan Perempuan pada Selasa (14/05) di Kampus Intitute Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta.

"Tantangan tersebut muncul akibat dari serbuan teknologi informasi dan media masa. Modernitas tidak mau ketinggalan, modernitas melalui pranata sosial yang dibawahnya menguras tanggung jawab dan peran penting keluarga,” ungkap Masyitoh.

Melihat hal itu, Muhammadiyah dalam Keputusan Muktamar ke 47 merumuskan beberapa hal sebagai sistem imun untuk mencegah persoalan-persoalan yang menjangkiti keluarga dan perempuan.

Pandangan Muhammadiyah terhadap keluarga terkait penguatan dan peningkatan kehidupan keluarga tidak hanya berkutat pada perencanaan dan pengendalian jumlah anak. Melainkan upaya yang lebih luas, seperti melakukan pemberdayaan atau empowerment serta perlindungan untuk memperkuat dan meningkatkan peran keluarga dalam pembangunan.

Gagasan progresif yang dilakukan oleh Muhammadiyah tentang pemberdayaan keluarga dan perempuan menurut Masyitoh, merupakan pandangan yang berkemajuan yang lahir dari sikap emansipasi dan egaliter yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan yang bersumber dari kitab suci Al Qur'an dan membaca sikap Nabi Muhammad SAW terhadap perempuan disekitarnya.

Masyitoh merumuskan, setidaknya ada tujuh problematika yang dihadapi oleh perempuan dan anak. Diantaranya adalah permasalahan pendidikan, keluarga, kesehatan, ekonomi dan kemiskinan, budaya dan mentalitas, hukum dan politik, serta tantangan industri 4.0 yang saat ini sedang dihadapi negara-negara berkembang.

"Sebenarnya, 'Aisyiyah dalam pengentasan permasalah perempuan dan anak lebih dahulu memiliki kesadaran dari pada PBB yang meluncurkan program Sustanable Development Goal's (SDGs)," katanya.

Sumber: muhammadiyah.or.id

Selanjutnya, merujuk pada hasil Tanwir Muhammadiyah Bengkulu, 'Aisyiyah dalam transformasi nilai-nilai risalah pencerahan untuk perempuan berkemajuan adalah dengan melakukan pengembangan gerakan keilmuan.

“Keilmuan merupakan budaya yang sudah mengakar di Muhammadiyah. Tradisi keilmuan digalakkan sebagai upaya pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan kehidupan yang lebih unggul,” jelasnya.

Transformasi selanjutnya adalah penguatan keluarga sakinah sebagai basis pembinaan ketaqwaan. Mengokohkan akhlak, mentalitas, dan penguatan karakter. Yang dari rumusan ini akan bergulir sampai pada penguatan bangsa dan internalisasi nilai-nilai moral bangsa berbasis agama.

Kemudian reaktualisasi usaha praksis, atau dalam bentuk konkritnya adalah terwujudnya kegiatan-kegiatan pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, pemberdayaan perempuan, kesadaran hukum, pendidikan kewarganegaraan, dan penguatan jama'ah di basis akar rumut.

"Reaktualisasi ini, menjadikan 'Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang mampu mengelola sumber dayanya secara pribadi dalam bentuk amal usaha. Baik di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial,” pungkas Masyitoh.