'Aisyiyah Takalar Dampingi Pasien Kanker Payudara

17 September 2016 14:58 WIB | dibaca 1255



Perkembangan Paliatif Care di Sulawesi Selatan

 

Kanker Payudara masih menjadi salah satu kanker penyebab terbesar kematian wanita di Indonesia. Berdasarkan data profil mortalitas Kanker (Cancer Mortality Profile) yang dirilis oleh WHO (2014) menyebutkan bahwa kanker payudara menyebabkan kematian terbesar pada perempuan Indonesia yakni sebesar 21,4%. Di sisi lain, pasien kanker payudara baru datang ke fasilitas kesehatan pada saat penyakit sudah mencapai stadium lanjut.  

Kanker memang penyakit yang memerlukan waktu relatif lama, proses yang berat dan tidak murah dalam penyembuhannya. Oleh karena itu dibutuhkan pendampingan keluarga dan juga tenaga kesehatan untuk dapat menumbuhkan semangat hidup pasien kanker karena faktor psikologis sangat mempengaruhi dalam prosesnya. Hal tersebut kemudian memunculkan asuhan paliatif (paliatif care) yang merupakan sebuah pendampingan untuk pasien dengan penyakit menahun termasuk kanker.

'Aisyiyah sebagai organisasi yang menaruh perhatian pada kesehatan termasuk kanker payudara dan kanker serviks telah berinisiatif mengadakan pelatihan Paliatif Care di Yogyakarta (22/7-24/7). Pelatihan tersebut diikuti oleh lintas sektor di lingkungan ‘Aisyiyah, yaitu Mubalighat dan Kader ‘Aisyiyah, Tenaga kesehatan ‘Aisyiyah dan Akademisi ‘Aisyiyah.

Sebagai tindak lanjut pelatihan tersebut, setiap peserta diminta menerapkan hasil pelatihan di daerah masing-masing. Salah satu asuhan paliatif dipraktekan oleh Dahniar, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulsel sekaligus akademisi dari Akademi Kebidanan Muhammadiyah; dan Nia yang merupakan kader sekaligus bidan desa di Kabupaten Takalar.  Asuhan paliatif yang telah dipraktekan oleh Dahniar dan bidan Nia tersebut dberikan kepada salah satu pasien kanker payudara di Dusun Bu’rane, Desa Boddia, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Menurut Dahniar, pasien berusia 55 tahun tersebut telah mengidap kanker payudara selama kurang lebih dua tahun. Dahniar menjelaskan bahwa pasien ditemukan oleh bidan koordinator di Kecamatan Galesong, kemudian di sampaikan kepada bidan desa yaitu bidan Nia. Dahniar menambahkan bahwa pendampingan untuk pasien baru dimulai pada 18 Agustus setelah tim menerima pelaporan.

Dukungan awal yang diberikan kepada pasien menurut Dahniar adalah mengurus segala hal yang diperlukan untuk memperlancar proses pengobatan karena pasien tidak mempunyai JKN dan selama dua tahun ini menggunakan BPJS milik saudaranya. Bahkan pasien juga sempat melakukan pengobatan dengan menaburi bubuk kayu manis pada bisul yang muncul di luka bekas operasi. "Sejak bulan Agustus dukungan yang dilakukan  adalah berusaha untuk segera dilakukan pengobatan oleh tenaga kesehatan baik di tingkat pertama maupun lanjutan, mencarikan dana melalu kepala desa dan menguruskan BPJS integritas yang bekerjasama dengan kepala puskesmas, BPJS dan dinas kesehatan serta melakukan perawatan luka secara rutin." Hal ini lanjut Niar dilakukan secara bersama sama oleh Tim 'Aisyiyah Mampu dan Bidan Desa.

Atas dukungan dan pendampingan yang dilakukan oleh tim, keluarga pasien mengaku sangat senang dan menyambut baik. Karena selama menderita kanker tidak pernah mendapatkan pengobatan yang maksimal. Selain karena tidak mempunyai BPJS, keluarga juga tidak mengetahui bagaimana mengakses pelayanan kesehatan yang ada. Perkembangan positif juga muncul dari diri pasien setelah mendapatkan pendampingan terutama secara psikologis dengan kembali munculnya semangat hidup pasien.

Diakui oleh Niar pengetahuan  masyarakat Sulawesi Selatan mengenai asuhan paliatif masih sangat kurang. "Seperti pasien yang saat ini kami dampingi, dimana selama sakit beliau kurang mendapat perhatian dari anak-anaknya sedangkan suami harus pergi melaut untuk mencari nafkah" tambah Niar. "Hal inilah yang mendorong kami untuk mensosialisasikan dan membentuk tim sehingga kasus – kasus dengan penyakit yang perjalanannya panjang akan mendapatkan perawatan yang maksimal untuk peningkatan kualitas hidupnya dan mendapatkan perhatian oleh semua multidisiplin ilmu terutama tenaga kesehatan sendiri."

Niar menjelaskan bahwa di Takalar sendiri asuhan paliatif baru diperkenalkan Kepala Puskesmas dan mendapat sambutan yang sangat positif untuk membentuk tim paliatif care di Takalar karena banyak kasus dengan penyakit yang sama tetapi terabaikan. Harapan dari 'Aisyiyah semoga pengetahuan tentang asuhan paliatif ini dapat tersosialisasikan dengan baik terhadap masyarakat khususnya Sulawesi Selatan sehingga pasien dengan penyakit menahun tidak terabaikan dan tetap mendapatkan perawatan yang baik. "Kami juga berharap agar paliatif care dapat  dilakukan secara berkelanjutan baik di rumah sakit, puskesmas, rumah singgah maupun di rumah pasien" tandas Niar. (SPU)