'Aisyiyah Sambut Hari Ibu dengan Dialog Publik Pastikan SDGs Berpihak Pada Perempuan

22 Desember 2016 12:42 WIB | dibaca 847

Hari ibu di Indonesia seharusnya dikaitkan dengan perjuangan perempuan di Indonesia terkait dengan Kongres Perempuan pertama yang diadakan di Jogjakarta pada tahun 22 Desember 1928. Hal tersebut diungkapkan okeh Sini Noordjanah Djohantini pada pembukaan Dialog Publik  Peringatan Hari Ibu dan Refleksi Akhir Tahun bertajuk “Memastikan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (SDGs) yang Berpihak Kepada Perempuan” yang diadakan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) (22/12). Noor mengatakan bahwa berbicara hari ibu adalah bicara tentang perjuangan pergerakan ‘Aisyiyah dan juga komunitas perempuan lainnya yang memperjuangkan kemajuan perempuan pada kongres perempuan pertama.

Dikatakan oleh Noor bahwa sangat relefan bila ‘Aisyiyah yang usianya sudah mulai memasuki abad kedua ingin terus meneguhkan agar perempuan bisa berkiprah lebih luas lagi, dan membantu mengambil peran untuk memperbaiki permasalahan yang ada di Indonesia. “Peringatan hari ibu kali ini kita sedang merefleksikan masalah di Indonesia dan bila dikaitkan dengan SDGs yang menjadi bagian kelanjutan dari mdgs. Bila kita melihat SDGs dan MDGs itu lekat dengan wajah perempuan. Bagaimana tentang hambatan dan persoalan perempuan. Maka disini hadir narasumber yang kompeten, kita bersama-sama bicara soal perjuangan bagaimana untuk kesejahteraan yang sama bagi laki-laki dan perempuan”, tutur Noor.

Dalam Dialog Publik kali ini hadir dua narasumber yaitu Diah S, Saminarsih Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kemitraan Dan SDGs, dan Destri Handayani dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pada kesempatan tersebut, hadir audiens dari kalangan Muhammadiyah, Akademisi, LSM,  Pemerintah juga mahasiswa.

Menurut Diah bahwa penting bagi anak muda untuk ikut andil dalam pencapaian SDGs karena sesungguhnya tujuan-tujuan SDGs adalah untuk memperbaiki masa sekarang untuk masa depan yang lebih baik. Dalam paparannya Diah menyampaikan materi mengenai Operasionalisasi Sebuah Agenda Global terkait Kesehatan Reproduksi dalam Kerangka Pembangunan Berkelanjutan. “ Bicara soal kesehatan dan perempuan ini terkait dengan goals 3 dan 5 yang merupakan tujuan SDGs untuk masa depan perempuan. Jadi menjadi penting pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi diketahui oleh semua pihak” Ungkap Diah.

Destri mengatakan, bahwa tujuan SDGs kali ini lebih komprehensif dibanding dengan Milenium Development Goals (MDG). Dikatakannya, dalam pembuatan tujuan SDGs lebih mendengarkan semua pihak sehingga masalah yang tadinya tidak muncul ke permukaan menjadi muncul. “Mengapa tujuan SDGs no one left behind itu karena kita mengakomodir semua kepentingan. Seperti yang tadinya netral gender sekarang lebih sensitive gender, artinya mengakomodasi kepentingan laki-laki dan perempuan yang berbeda itu”, Ungkap Destri.

Dengan adanya dialog publik ini diharapkan Noor para peserta akan lebih memahami secara komprehensif tentang tujuan, target, indikator SDGs yang tentunya akan memperbaiki masalah-masalah yang ada di Indonesia. [NKA]