'Aisyiyah IPAS Gelar Edukasi Kespro untuk Remaja Disabilitas di Kabupaten Ponorogo

26 Juli 2019 08:55 WIB | dibaca 108

Terbukanya akses informasi dan layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi adalah hak  bagi semua termasuk bagi remaja sebagaimana tercantum dalam 10 Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) begitu juga bagi remaja yang berkebutuhan khusus. Hal ini lah yang coba di atasi oleh Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Ponorogo dalam kegiatan PEKERTi yang bekerjasama dengan Yayasan IPAS Indonesia.

Melalui kegiatan PEKERTi PDA Kabupaten Ponorogo memberikan edukasi dan bimbingan terkait kesehatan seksual dan reproduksi kepada murid-murid SLB yang dikelola oleh ‘Aisyiyah. “Karena kita punya sekolah luar biasa mulai dari TK, SD, SMP, SMA ALB dan cukup banyak murid yang memasuki usia remaja. Pada usia tersebut walaupun dengam keterbatasan yang dimiliki mereka tetap mempunyai naluri ketertarikan pada lawan jenis, dari sanalah kenapa pendidikan terkait kespro ini juga penting bagi mereka,” ujar Titi Listyorini selaku ketua PDA Kabupaten Ponorogo. Ketidakpahaman mereka menurut Lis bisa saja menimbulkan berbagai sebab seperti mengakses konten-konten pornografi di media sosial bahan hingga terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan. 

Untuk melakukan edukasi kespro bagi remaja berkebutuhan khusus ini Listyorini bersama timnya menyiapkan peralatan edukasi khusus. “Kami menggunakan beberapa alat yang khusus bagi mereka seperti untuk tuna netra kami menggunakan materi peraga yang timbul sehingga bisa diraba juga alat peraga dari boneka yang bisa menunjukan seperti apa proses menstruasi seperti apa proses melahirkan,” papar Listyorini.

Wahyu Setiyani salah satu kader ‘Aisyiyah mengaku bahwa memberikan edukasi kepada remaja yang berkebutuhan khusus ini bukan hal yang mudah karena tentu berbeda dengan edukasi biasa. “Selain waktu yang disediakan untuk edukasi terbatas, penyederhanaan materi juga memerlukan waktu yang agak lama karena beberapa materi di translate dalam bentuk braille.” Menurut Wahyu materi yang diberikan pada edukasi ini mulai dari pengetahuan sederhana tentang menjaga sikap dan kesopanan dalam berpakaian, bagaimana menjaga kebersihan, membersihkan alat kelamin, menggunakan pembalut saat menstruasi, mengganti pembalut selama beberapa jam sekali, pengenalan alat reproduksi, hingga tentang kesehatan reproduksi. Ia berharap kegiatan edukasi ini bisa berkelanjutan karena untuk menumbuhkan pemahaman bagi remaja dengan disabilitas tidak bisa disampaikan sekali saja. “Kami juga berharap aka nada alat bantu permainan yang memadai yang sesuai dengan disabilitasnya,” ujar Wahyu.

Saat ini kegiatan edukasi di lakukan di SLB ‘Aisyiyah dan juga mengundang SLB lain untuk menjadi peserta, “Kami mengundang dari sekolah lain masing-masing lima murid sebagai perwakilan dengan satu guru pembimbing.” Menurut Listyorini respon yang diterima sangat positif dan mereka berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan dan mengedukasi seluruh murid yang ada.

Listyorini berharap bahwa para guru yang mengikuti pelatihan bisa menerapkan ilmu yang didapat di sekolah masing-masing. Bimbingan yang terus menerus dari para guru pendamping adalah sangat penting menurutnya. “Anak-anak ini sudah remaja, mereka memiliki naluri tetapi keterbatasan mereka bisa saja mengakibatkan dampak yang tidak diinginkan oleh karena itu saya harap para guru bisa memberikan bimbingan dan dampingan secara terus menerus sehingga mereka tidak lupa dan menjadi kebiasaaan bagi mereka.” Kedepannya Lis berharap akan lebih banyak lagi kader ‘Aisyiyah yang memiliki kemampuan untuk melakukan edukasi kepada para remaja berkebutuhan khusus ini sehingga semua anak-anak kita bisa mendapatkan hak-haknya. (Suri)