'Aisyiyah : Hadapi Masalah dan Tantangan Melalui Revitalisasi, Antisipasi dan Gerakan Praksis

19 Oktober 2012 17:47 WIB | dibaca 1826

Sidang Tanwir ‘Aisiyah I yang diselenggarakan di kampus terpadu Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta kali ini memiliki makna penting dan strategis bagi ‘Aisyiyah. Melalui Sidang Tanwir ini, ‘Aisyiyah dapat melakukan evaluasi dan refleksi diri menyongsong usia satu abad sekaligus sebagai momentum pergantian Abad ke satu menuju abad kedua.

Pada Pidato iftitah Sidang Tanwir ‘Aisiyah I, mengambil tema : “GERAKAN PRAKSIS SOSIAL AL-MA’UN UNTUK KEMAJUAN BANGSA”, ini menggugah kesadaran ‘Aisiyah atas perjalanan panjang penuh dinamika dari organisasi perempuan Muhammadiyah yakni perjuangan untuk berjihad dalam memajukan seluruh aspek kehidupan melalui penguatan spiritual, akhlaq, pendidikan, kesehatan, ekonomi, kesejahteraan sosial, dan usaha lainnya berbasis jama’ah diseluruh tanah air.

Pada kesempatan ini, Noordjanah Djohantini juga mengatakan bahwa pembaruan ‘Aisyiyah dilakukan atas dasar keyakinan dan pandangan islam yang berwawasan “al-ruju’ ila al Qur’an wa al-Sunnah” dengan mengembangkan ijtihad untuk menuntun kehidupan manusia dalam hablun minAllah dan hablun minannas.

“Kiprah partisipasi dan konstribusi ‘Aisyiyah diberbagai bidang kehidupan sudah banyak dan telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah dengan diberikannya 3 (tiga) penghargaan pada 2012 antara lain dari Kementrian Kehutanan, Anugerah Peduli Pendidikan, dan MDG’s Award atas peran strategis ‘Aisyiyah bagi kemajuan bangsa yang sejatinya telah dimulai sejak ‘Aisyiyah berdiri. Selain itu Kontribusi ‘Aisyiyah ini dilakukan melalui dakwah dan jihad di berbagai bidang, antara lain pendidikan, ekonomi, kesehatan, pendidikan politik maupun usaha lain dengan berbasis pada gerakan Keluarga Sakinah dan Qoryah Thoyyibah.” tambahnya

Dalam pidato iftitah kali ini, Noordjanah menyampaikan beberapa permasalahan yang sering terjadi di masyarakat, seperti maslaah politik, ekonomi, ketahanan pangan, dan kekerasan perempuan.

Mengenai masalah politik, Noordjanah mengungkapkan bahwa “Saat ini politik hanya sekedar alat meraih kekuasaan, uang, dan kedudukan, bukan memperjuangkan kepentingan rakyat tapi lebih mengutamakan kepentingan individu. Selin itu, Moneypolitik sudah menjadi budaya politik diseluruh kalangan.”

Sedangkan bicara masalah ekonomi dan ketahanan pangan, Noordjanah mengungkapkan bahwa “Kapitalisme global dan liberalisasi ekonomi mematikan ekonomi rakyat kecil sehingga menjadikan kesenjangan ekonomi semakin lebar. Masyarakat cenderung mengutamakan materialisme, hedonisme, dan oportunisme dalam kehidupan sehari-hari. Ketahanan pangan banyak berkaitan gizi buruk yang dialami anak-anak indonesia. Masalah pangan bukan sekedar terpenuhinya kebutuhan pangan tapi tentang bagaiaman ketersediaan pangan, asal dari mana, dan tentang ketahan dan kedaulatan pangan. Bagi ‘Aisyiyah masalah pangan jua perlu memperoleh perhatian karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat yang berpengaruh pada aspek kehidupan.”

“Pengaruh media masa memiliki peran strategis di ruang publik Tidak disangkal media memiliki peran untuk mencerdaskan bangsa, namun tetapi media masa terutam televisi dan media sosial menjadi wahana berkembangnya pornoaksi, pornografi, ghibah, dan tidak jarang melakukan pembohongan publik.” tambahnya.

Noordjannah menyampaikan, “Kekerasan perempuan ditunjukkan dengan meningkatnya perceraian akibat KDRT, poligami, perkosaan, dan lain sebagainya. Sementara kekerasan pada anak, bisa berbentuk kasus bullying, tawuran, narkoba, kekerasan seksual. Hal ini terkait situasi sosial, ekonomi, politik, dan agama yang tidak positif.”

Diakhir pidatonya, Noordjannah menegaskan “Dalam menghadapi masalah dan tantangan, ‘Aisyiyah memerlukan revitalisasi, antisipasi (idealis dan pemikiran) dan praksis pergerakan. Pertama, pada sisi idealisme ‘Aisyiyah dituntut memperkokoh idealisme dalam dirinya agar nilai idealisme (prinsip ideologi gerakan dan komitmen idealisme) terpelihara. Kedua, pengembangan pemikiran. ‘Aisyiyah memerlukan pemikiran yang kokoh dalam menghadapi isu-isu perempuan yang bersifat aktual dan mutakhir. Tanwir ini penting bagi para pimpinan ‘Aisyiyah untuk menjadi ajang membahas masalah dan tantangan yang besar dengan pemikiran luas dan mendalam.”