'Aisyiyah Gugah Kembali Kepedulian Sastra Generasi Milenial

18 Januari 2020 18:47 WIB | dibaca 118

 
YOGYAKARTA -- 'Aisyiyah dan Sastra, tema tersebut diangkat oleh Lembaga Kebudayaan Pimpinan Pusat (LK PP) 'Aisyiyah yang dikemas dalam acara Obrolan Santai dan diselenggarakan pada Sabtu (18/1) di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cikditiro nomor 23, Yogyakarta. Melalui acara tersebut, LK PP 'Aisyiyah ingin mengenalkan sastra sebagai bagian dari kebudayaan pada generasi milenial.
 
Kebudayaan yang awalnya sebagai pedoman hidup kini telah tergerus oleh arus globalisasi. Nilai-nilai kebudayaan kemudian luntur dan arah pedoman manusia sebagai suatu bangsa turut berubah. Bahasa dan sastra sebagai bagian dari kebudayaan yang juga pedoman hidup dan arah kehidupan warga negara Indonesia juga luruh bersamaan dengan perubahan tersebut. Hal ini menyebabkan karya sastra yang awalnya mengandung nilai-nilai kemanusiaan menjadi pudar.
 
Dampak signifikan dari fenomena ini adalah tergerusnya pemahaman generasi muda atau milenial terhadap budaya luhur aslinya, mereka  kini cenderung mengkonsumsi budaya baru yang datang. Budaya yang datang dari berbagai belahan dunia, kemudian mendominasi konsumsi informasi dan budaya kehidupan generasi milenial.
 
Widiyastuti, Wakil Ketua LK PP 'Aisyiyah mengatakan, digelarnya acara ini adalah sebagai wadah untuk menggugah semangat generasi muda atau milenial untuk kembali peduli terhadap sastra. Karena sastra bagi ‘Aisyiyah juga dianggap alat dakwah, di Muhammadiyah juga telah ditahfidzkan bahwa, metode dakwah alternatif salah satunya melalui dakwah kultural. 
 
“Kepedulian ‘Aisyiyah dibuktikan dengan adanya Majalah Suara ‘Aisyiyah (SA) yang teguh merawat semangat literasi kelompok Perempuan Berkemajuan. Juga sebagai cara mengembangkan sayap dakwah ke berbagai kalangan," tuturnya.
 
Sementara itu, Ketua PP ‘Aisyiyah, Susilaningsih Kuntowijoyo menjelaskan, acara ini dikemas dan untuk menggaet kaum muda, melalui pendekatan sastra. Karena sejak awal ‘Aisyiyah telah memiliki concern terhadap sastra. Serta penting untuk mengembangkan sastra itu sendiri. Istri dari sastrawan Kuntowijoyo ini menyakini bahwa di ‘Aisyiyah banyak yang memiliki kefasihan dalam sastra.
 
“Karya sastra adalah ekspresi estetis dari para sastrawan yang terkait dengan pengalaman, harapan, bagian dari imajinasinya dan berbagai kondisi-kondisi lainnya," ugkapnya.
 
Mengutip pendapat mendiang suaminya, sastra merupakan ekspresi bagian dari dalam manusia yang direaktualisasikan. Sastra haruslah bisa membawa kepada pengenalan-pengenalan dan tugas kenabian, yang kemudian dikenal dengan sastra profetik karangannya. Sastra profetik harus mengandung unsur-unsur illahiah, yang berpijak pada surat Ali Imron ayat 110. Didalam ayat tersebut, tersirat perintah kepada manusia terbaik untuk mencegah kerusakan dan melestarikan keindahan dan kebaikan.
 
“Sastra itu adalah langkah memanusiakan manusia, yang mencegah kepada kehancuran dan mengajak orang kepada kebaikan," ucapnya dalam sesi sambutan.
 
Obrolan Santai tersebut dihadiri oleh peserta dari berbagai rentang usia, anak sekolah dasar, kader dan anggota 'Aisyiyah, serta Ketua PP 'Aisyiyah dan Muhammadiyah. Acara Obrolan Santai semakin terasa istimewa dengan hadirnya peserta yang membacakan puisi, di antaranya puisi dibawakan oleh Ketua Umum PP Nasyi'atul 'Aisyiyah, Diyah Puspitarini, Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Hafiz Syafa'aturrahman, Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad dan Mustofa W. Hasyim, juga dari Sekolah Dasar Unggulan 'Aisyiyah (SDUA) Bantul, serta jajaran anggota LK PP 'Aisyiyah.
 
Seperti yang dikatakan Widiyastuti, 'Aisyiyah telah melekat dengan sastra bahkan sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, dibuktikan dengan hadirnya majalah Suara 'Aisyiyah pada tahun 1926 yang berisi rubrik yang memuat karya-karya sastra. Adib Sofia, selaku Pemimpin Redaksi Suara 'Aisyiyah yang menjadi narasumber dalam acara Obrolan Santai menyampaikan beberapa perubahan pada istilah rubrik yang memuat karya-karya sastra di dalamnya sejak tahun 40-an sampai saat ini.
 
Selain perubahan pada nama rubrik, Adib Sofia sedikit khawatir akan penikmat sastra yang semakin berkurang, terutama dari generasi milenial. Menurutnya, agar karya sastra kembali dilirik harus memberikan dampak. "Hal yang membuat bagus dari karya sastra adalah karya sastra yang memberikan dampak, tidak hanya sebagai refleksi, ekspresi diri sendiri terhadap suatu fenomena," terangnya. Kekhawatiran tersebut juga diimbangi dengan hadirnya M. Fauzan, sebagai narasumber yang aktif dalam kegiatan literasi.
 
Sumber foto: muhammadiyah.or.id