'Aisyiyah Dorong Organisasi Filantropi dan Pemerintah Bantu Pengobatan Pasien TBC

15 November 2018 17:25 WIB | dibaca 652

 
JAKARTA - Principal Recipient Tuberkulosis (PR TB) 'Aisyiyah mendorong pemerintah dan badan amil zakat untuk membantu pasien Tuberculosis (TBC) dalam pemberdayaan ekonomi bagi pasien TBC agar bisa memiliki usaha untuk menopang kehidupan sehari harinya. Hal ini menjadi fokus pada diskusi terkait  filantropi di Hotel Lumire pada Selasa (13/11) lalu.
 
 
AS PR TB 'Aisyiyah Dr.  Rohimi Zamzam, S. Psi,  S. H,. M.Pd. mengungkapkan, pasien TBC  memiliki proses pengobatan yang sangat panjang hingga berbulan-bulan. "Untuk kategori TBC biasa saja butuh waktu hingga enam bulan pengobatan, sedangkan untuk pengobatan TB MDR pengobatanya butuh waktu hingga dua tahun" jelasnya.
 
Diakui Rohimi Zamzam selama proses itu diharapkan tidak DO atau terputus pengobatannya, karena kalau terputus pengobatan bisa mengulang proses pengobatan dan bisa mengakibatkan penyakit TBC menjadi semakin parah. 
 
 
"Dalam proses pengobatan yang panjang itu secara psikis hal yg dialami  pasien tidak sekedar merasa jenuh,  merasa sangat berat, dan ada rasa lelah dengan kondisinya. Selain itu aspek lain  adalah faktor kemampuan ekonomi,  dorongan keluarga atau kebutuhan mencari nafkah untuk keluarga, karena pasien TB selain berobat, pasien juga bekerja perlu mencari Nafkah untuk kehidupanya" ujar Rohimi Zamzam di Kantor PR TB 'Aisyiyah pada Kamis (15/11).
 
"Jika pasien dari kalangan orang mampu tentu permasalahan ekonomi tidak begitu menghambat proses pengobatan namun persoalannya dari kalangan pasien yang ekonominya sulit untuk kebutuhan sehari hari saja harus tetap bekerja,  di sinilah akan sedikit terhambat proses pengobatannya" ungkapnya.
 
Di sinilah  butuh sinergi peran, baik oleh Pemerintah dan lembaga filantropi seperti Baznas, Lazismu, Lazisnu dan lembaga zakat lainya untuk membangun ekonomi pasien dan mantan pasien TBC agar mampu menghidupi keluarganya sehingga proses pengobatannya tidak terhambat.  
 
Rohimi Zamzam mengungkapkan penderita TBC di Indonesia kini di posisi ke 2 tertinggi, hal ini seharusnya menjadi perhatian serius selain proses pengobatan yang butuh waktu lama, kuman TBC juga menular sehingga butuh perhatian serius dari kita semua",  pungkasnya. (AAM dan JH)
 
Sumber: Jiaul Haq