'Aisyiyah di Forum Mitra MAMPU

13 Juli 2017 11:32 WIB | dibaca 1285

 

11-12 Juli 'Aisyiyah mengikuti kegiatan Pertemuan Forum Mitra MAMPU (Kemitraan Australia-Indonesia untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan) dengan tema "Kepemimpinan Perempuan untuk Mengakhiri Pemiskinan Perempuan dan Ketimpangan Relasi Gender di Jakarta.

Pada kegiatan yang dihadiri oleh Bappenas, KPPPA, Kedutaan Besar Australia, dan juga Mitra MAMPU yang lain ini 'Aisyiyah berbicara mengenai Layanan Akses Tes IVA dan Sadarnis. Disampaikan oleh Tri Hastuti Nur Rochimah selaku Koordinator Program MAMPU 'Aisyiyah layanan akses tes IVA dan sadarnis merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian dan kerja 'Aisyiyah. "Isu kesehatan reproduksi masih minim diketahui perempuan Indonesia, karena itu kader 'Aisyiyah di 16 kabupaten/kota melakukan sosialisasi dan mobilisasi para perempuan untuk lebih tahu, peduli dan aktif tentang kesehatan reproduksi mereka," ujar Tri yang juga merupakan Sekretaris Pimpinan Pusat 'Aisyiyah.

 

Pada pertemuan tersebut 'Aisyiyah turut menghadirkan 6 orang perempuan kader 'Aisyiyah sebagai perwakilan komunitas dampingan 'Aisyiyah yakni Balai Sakinah 'Aisyiyah (BSA). Mereka yang berasal dari Bantaeng, Magelang, Blitar, Cilacap, Pangkep, dan Sambas ini berbagi tentang kisah dan perubahan yang telah mereka lakukan bersama kader dan kelompok BSA. Syamsiah salah satu kader 'Aisyiyah yang berasal dari Bantaeng menceritakan tantangan yang dihadapinya saat mengajak para perempuan di daerahnya untuk sadar akan pentingnya kesehatan reproduksi dan untuk menunda usia pernikahan. Syamsiah bersama kader yang lain juga menceritakan kisah mereka melakukan advokasi kepada pemerintahan untuk mengeluarkan kebijakan yang memudahkan akses perempuan pada lima isu yang menjadi perhatian 'Aisyiyah.

  

Dahniar Halim dari Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Sulawesi Selatan juga melakukan presentasi inovasi layanan kespro yang dilakukan oleh 'Aisyiyah dan 'Aisyiyah juga mendapatkan apresiasi atas beberapa terobosan yang dilakukan untuk kesehatan reproduksi. Terobosan tersebut seperti model layanan Fasilitas Kesehatan (Faskes) Tingkat I dengan pendekatan hak perempuan, Rumah Gizi di BSA, Desa Peduli Kespro dan Gerakan Infaq Sayang Ibu (GISI), juga Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk pemeriksaan IVA dan Kespro. Menurut Tri ‘Aisyiyah terus melakukan beberapa terobosan yang dirasa perlu dengan melihat fakta dan permasalahan yang dihadapi para perempuan di lapangan untuk kesehatan reproduksi mereka. (Suri)