‘Aisyiyah Desak Deteksi Dini Kanker Serviks Masuk Layanan JKN

26 Agustus 2015 17:50 WIB | dibaca 824

Ilustrasi (Foto : Arsip ‘Aisyiyah)

 

Meski telah tercantum sebagai cakupan layanan dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), namun deteksi dini kanker serviks melalui tes IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) dan Pap Smear belum dapat diakses oleh peserta JKN secara gratis. Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi bertajuk “Merindukan Kebijakan Jaminan Kesehatan Ramah Perempuan” yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah bekerjasama dengan Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta, di Kampus Terpadu Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta, Ring Road Barat, Nogotirto, Yogyakarta (24/8).

IVA merupakan deteksi dini kanker serviks melalui pengolesan asam asetat pada bagian serviks atau leher rahim. Sedangkan Pap Smear adalah deteksi dini kanker serviks dengan mengambil jaringan sel pada leher rahim. “Indonesia sudah darurat kanker serviks, deteksi dini mau tidak mau harus dilakukan untuk mencegah semakin banyak perempuan terkena kanker serviks dalam stadium lanjut,” ungkap Tri Hastuti Nur Rochimah, Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Ia menambahkan, berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit tahun 2010, jumlah pasien rawat jalan dan rawat inap pada kanker payudara terbanyak, yaitu 12.014 orang; sedangkan kanker serviks terbanyak kedua sebesar 5.349 pasien. Dalam data Riskesdas 2013, prevalensi tumor kanker di Indonesia 1,4 per 1000 penduduk atau 330.000 orang, dan  kebanyakan menyerang perempuan. Sayangnya, ujar Tri, sebanyak 70% pasien kanker sudah berada pada stadium lanjut, “Hal Itu menjelaskan mengapa angka kematian karena kanker payudara dan serviks di Indonesia tinggi,” jelas Tri.

Noordjannah Djohantini, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, mengatakan, “‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang menaruh perhatian pada kesehatan reproduksi, terpanggil untuk mendorong semakin banyak perempuan yang melakukan deteksi dini kanker serviks maupun payudara.” Noor menambahkan, jika terdeteksi semakin dini, lebih besar kemungkinan untuk sembuh.

Tri menyayangkan masih sedikitnya perempuan di Indonesia yang melakukan deteksi dini kanker serviks, yaitu baru 5 persen dari idealnya sebanyak 80 persen. Data Kementrian Kesehatan menyebutkan bahwa pada tahun 2014, baru 886,036 atau 2,3 persen dari 37.415.483 perempuan usia antara 30-50 tahun yang telah melakukan IVA dan Pap Smear. ‘Aisyiyah sendiri, hingga 2015, di 11 kabupaten telah berhasil mendorong 3

Keberadaan Jaminan Kesehatan Nasional diharapkan dapat mendorong semakin banyak perempuan yang melakukan deteksi dini kanker serviks maupun payudara. “Sudah seharusnya JKN mencakup layanan IVA dan Pap Smear secara gratis,” tegas Tri Hastuti. Ia menerangkan, meski screening (deteksi dini) telah tercantum dalam cakupan layanan JKN, tapi temuan ‘Aisyiyah di beberapa kabupaten, seperti Pangkep dan Takalar  di Sulawesi Selatan, peserta JKN belum dapat melakukan tes IVA atau Pap Smear secara gratis. Cakupan screening/deteksi dini dalam cakupan layanan, tambah Tri, ternyata diterjemahkan berbeda dalam implementasi di lapangan. Deteksi dini baru dapat dicakup dalam JKN jika terdapat diagnosa bahwa pasien kemungkinan terkena kanker serviks. Padahal dalam penjelasan cakupan deteksi dini sebagaimana terdapat dalam Buku Pegangan Sosialisasi JKN, disebutkan bahwa skrining kesehatan ditujukan juga untuk mendeteksi risiko penyakit.

Memperkuat argumentasi pentingnya deteksi dini tercakup dalam layanan JKN, Tri mengutip data yang disampaikan oleh Fadjriadinur, Direktur Pelayanan BPJS, bahwa BPJS Kesehatan telah menghabiskan 1,54 trilyun pada 2015 ini untuk menutup biaya pengobatan di RS maupun biaya pencegahan terkait kanker. Dari 1,54 trilyun tersebut, 905 milyar digunakan untuk membiayai pengobatan di RS, dan hanya 44 milyar yang digunakan untuk biaya pencegahan. Data tersebut, tambah Tri Hastuti, menunjukkan besarnya biaya yang telah dihabiskan untuk pengobatan dibandingkan upaya pencegahan, “sudah saatnya, paradigm pembangunan kesehatan kita beralih dari kuratif ke preventif.”

Rosalia Sciortino, peneliti dan pengamat kesehatan di Asia, yang hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut juga memandang pentingnya deteksi dini kanker serviks maupun payudara masuk dalam cakupan layanan JKN, bukan hanya dapat dicakup JKN jika terdiagnosa saja. Ia berharap, “Layanan deteksi dini kanker serviks maupun payudara dapat menjadi sistem yang terstruktur.” (Hajar)