'Aisyiyah Catat Memoar Sejarah di Surabaya

23 Januari 2018 14:24 WIB | dibaca 903

 

Surabaya -  Di Surabaya tercatat sejarah monumental bagi ‘Aisyiyah. Hal tersebut diungkap oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saat memberikan sambutan dalam pembukaan Tanwir I ‘Aisyiyah dan peresmian gedung At-Tauhid Tower bertempat di Universitas Muhammadiyah Surabaya, pada Kamis (19/01/2018).Pada tahun 1926, atau sekitar 91 tahun yang lalu, di Surabaya, diadakan Kongres Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Haedar menyatakan, di tengah minimnya peran perempuan di ranah publik, apa yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah saat itu, merupakan langkah luar biasa maju yang menandai Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebagai organisasi berkemajuan. Surat kabar ternama warta kota Surabaya kala itu meng-ekspose pidato Nyai Walidah Dahlan,“Menyebut Nyai Walidah sebagai srikandi Indonesia”,ungkap Haedar.Ia menandaskan, bahwa kongres tersebut telah berlangsung 2 tahun sebelum berlangsung Kongres Perempuan Indonesia I, yaitu pada 1928. Dalam arti, dua tahun sebelum Kongres Perempuan Indonesia I, sejatinya telah terselenggara terlebih dahulu Kongres Perempuanyang diadakan oleh ‘Aisyiyah.

 

Tak hanya itu, Haedar Nashir juga mengingatkan hadirin tentang pesan Nyai Dahlan di ujung hayatnya, pada 18 Agustus 1945, sehari setelah kemerdekaan RI. Nyai Walidah berpesan,“Indonesia telah merdeka, namun yang (belum) merdeka adalah Islam (dari kekolotan dan kejumudan), maka suburkanlah Indonesia melalui Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, dan jadikanlah Indonesia sebagai negara baldatun thayyibatun warabbun ghofur,“. Haedar kemudian mengingatkan, “Inilah mozaik yang perlu dikenang di Kota Surabaya dan perlu dikenang dalam gerakan ‘Aisyiyah kedepan sebagai benih-benih perjuangan.”

Tanwir I ‘Aisyiyah yang berlangsung selama 19-21 Januari 2018 ini dibuka oleh Wakil Presiden RI, H.M. Jusuf Kalla. Haedar pun kemudian berseloroh tentang kedekatan Wakil Presiden RI, H.M. Jusuf Kalla kepada organisasi ‘Aisyiyah, “Bahkan perhatian Wapres RI kepada ‘Aisyiyah lebih besar daripada kepada Muhammadiyah, saya tidak tahu siapa yang mempengaruhi,”ujar Haedar diikuti gelak tawa seluruh peserta pembukaan Tanwir-1 ‘Aisyiyah.

  

 

Saat memberikan sambutan, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla pun menjawab seloroh Haedar Nashir tentang kedekatan Wakil Presiden RI, H.M. Jusuf Kalla dengan organisasi ‘Aisyiyah. Jusuf Kalla menjawab alasan kedekatannya dengan ‘Aisyiyah karena kedekatan istri dan keluarganya dengan ‘Aisyiyah,“Saya sangat dekat dengan ‘Aisyiyah karena semua hal, termasuk istri dan keluarga saya yang juga bagian dari keluarga ‘Aisyiyah,”ungkap Jusuf Kalla. Selain itu, imbuh JK, perempuan betul-betul menjadi pilar ekonomi bangsa. “Salah satu hal yang masih saya kenang adalah ketika ayah saya bangkrut, ibu saya yang berperan untuk memenuhi kebutuhaan, termasuk dukungan dari istri saya sehingga saya selalu semangat (menjadi pengusaha) untuk hidup selayaknya.”

Terkait dengan gerakan ekonomi yang menjadi tema Tanwir I, JK menyoal tentang potensi koperasi yang dapat menggerakkan produktivitas ekonomi dan wajib mendapatkan pembelaan ditengah pertarungan industrialisasi dan modernisasi pasar yang akan cepat menggerus pertumbuhan ekonomi rakyat. Selain itu, tambah JK, diperlukan kerjasama dan perhatian bersama untuk membentuk kekuatan ekonomi yang dilakukan oleh perempuan, baik melalui gerakan pengajian bersama, perkumpulan perempuan, gerakan infaq produktif,dan simpan pinjam. Gerakan ekonomi perempuan, dalam pandangan JK,mampu menggerakkan ekonomi mikro yang dapat meningkatkan perkembangan ekonomi Indonesia.

  

Dalam acara yang sama, Soekarwo, Gubernur Jawa Timur, saat menyampaikan sambutan, juga mengaku tertarik dengan tema Tanwir I ‘Aisyiyah. Laki-laki yang biasa disapa dengan Pakde Karwo tersebut menyatakan, “Kami ingin membangun kekuatan ekonomi perempuan untuk membangun ekonomi provinsi dan pengarusutamaan gender.” Ia berharap program-program tersebut (program pemberdayaan ekonomi perempuan-red) dapat dilaksanakan di Jawa Timur yang telah siap dan berpengalaman. Ia menyebut program pemerintah provinsi seperti hibah Pemprov untuk koperasi perempuan baik konvensional maupun syariah. “Potensi perempuan di Jawa Timur sangat besar dan produktif,” ungkapnya. (Sau/Hajar)