Abad Kedua, ‘Aisyiyah Harus Lebih Peka Pada Masalah Sosial

23 Mei 2015 12:32 WIB | dibaca 853

Prof. DR. Abdul Malik Fadjar saat memberikan sambutan dalam Seminar Pra Muktamar di STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta (dokumen ‘Aisyiyah)

 

Memasuki abad kedua dalam hitungan kalender Miladiyah, ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan tertua di Indonesia harus menjadi organisasi yang lebih peka pada permasalah sosial masyarakat yang selama ini ada.

 

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Abdul Malik Fadjar saat menyampaikan sambutan dalam acara Seminar Pra Muktamar, Sabtu (23/05) di STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta. Menurut Malik Fadjar, hal itu merupakan bentuk nyata dari reaktualisasi peran ‘Aisyiyah di masyarakat. Reaktualisasi tersebut bisa dilakukan dengan mulai mendorong lahirnya penulis-penulis perempuan dan menjadikan perguruan tinggi organisasi sebagai ajang pemikiran.“Reaktualisasi ini harus diserap dan dipelopori oleh STIKES,” ujar Malik.

 

Malik juga menambahkan, ‘Aisyiyah harus memahami dokumen sejarah sebagai bentuk refleksi. Menurutnya sebuah gerakan akan mandeg ketika tidak mengenal jejak yang pernah ditempuhnya. Malik mencontohkan peran ‘Aisyiyah dalam kongres perempuan pertama pada 1928 sebagai bentuk refleksi jejak peran ‘Aisyiyah di masa lalu.

 

“Siti Munjiyah dan Siti Hayinah (perwakilan ‘Aisyiyah) hadir bukan menjadi penggembira. Kala itu mereka terlibat dan menjadi saksi sejarah gerakan perempuan,” kata Malik.

 

Untuk itu reaktualisasi ‘Aisyiyah menuju abad kedua harus menjadi gerakan praksis yang memiliki kepekaan pada isu sosial yang ada di masyarakat.