Abad Kedua, ‘Aisyiyah Berpacu dengan Zaman

05 Agustus 2015 17:59 WIB | dibaca 1203

Seorang pengunjung menuliskan kesan di stand Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah (Dok. ‘Aisyiyah)

 

Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah yang dilaksanakan di Makassar menjadi gerbang memasuki abad kedua. Kemajuan zaman yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, mengiringi gerak langkah ‘Aisyiyah memasuki abad kedua. Kondisi tersebut menjadi satu kesyukuran ‘Aisyiyah karena membawa banyak manfaat dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat, salah satunya di bidang komunikasi.

Namun disamping itu, teknologi informasi yang berkembang pesat juga menjadi tantangan besar bagi ‘Aisyiyah dalam membangun institusi keluarga sakinah. ‘Aisyiyah mencatat terdapat 30 juta remaja menggunakan internet secara aktif, tingginya angka penggunaan internet tersebut dapat berdampak pada sikap asosial dan menurunnya intensitas komunikasi antara orangtua dan anak. Padahal peran orangtua sangat dibutuhkan untuk membimbing anak dengan komunikasi yang efektif.

Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Noordjannah Djohantini, menyadari bahwa laju perkembangan zaman berlangsung dengan cepat, sementara masyarakat kurang siap mengikuti akselerasi zaman tersebut.

Menanggapi zaman yang berkembang pesat, ‘Aisyiyah sudah lama mempersiapkan diri dengan membuat kurikulum dengan semangat pendidikan media literasi dan melek media. Kurikulum tersebut digunakan dalam lingkup pendidikan formal di tingkat usia dini dan taman kanak-kanak di bawah naungan ‘Aisyiyah.

“Kurikulum media literasi sudah berlangsung lama di institusi pendidikan ‘Aisyiyah, seperti di TK. ‘Aisyiyah sudah bekerjasama dengan UNICEF selama hampir 10 tahun terkait kurikulum tersebut”, ungkap Noordjannah.

Meskipun telah lama mempersiapkan diri terhadap berbagai ancaman zaman. ‘Aisyiyah sadar akan kesiapan basis gerakan atau akar rumput dalam menyongsong abad kedua dengan berbagai tantangan, padahal ‘Aisyiyah memiliki struktur kepemimpinan yang menyentuh sampai akar rumput.

Melihat problem internal ini, Noordjannah mengharapkan agar ‘Aisyiyah kedepan bekerja keras dalam memperkuat basis akar rumput dengan menjalankan konsolidasi organiasi.

Harapan tersebut selaras dengan program-program ‘Aisyiyah yang pelaksanaannya melibatkan stuktur kepemimpinan oraganisasi yang bersentuhan langsung dengan basis gerakan. Seperti programdi Bidang Pembinaan Keluarga yang akan mengintensifkan pembinaan keluarga khususnya bagi anak-anak dan remaja yang beperdoman pada Tuntutan keluarga sakinah.

Selain itu program yang menyentuh basis lainnya adalah meningkatkan dan mengintensifkan peran keluarga (orang tua) sebagai pendamping anak dalam beradaptasi dengan dunia media dan informasi.

 

Indonesia Berkemajuan didukung oleh “Keluarga Berkemajuan”.

‘Aisyiyah menaruh perhatian penting pada lingkungan keluarga, hal itu dibuktikan dengan penerbitan buku Tuntunan Keluarga Sakinah. ‘Aisyiyah menganggap bahwa institusi keluarga harus menjadi tempat paling subur untuk menyemai sumberdaya insani yang berkarakter taqwa menuju khaira ummah.

Lebih lanjut, keluarga merupakan institusi solial paling efektif dan unit paling dini dalam pengembangan nilai-nilai utama, sehingga peran ‘Aisyiyah untuk memperkokoh keluarga menjadi keluarga sakinah membawa peranan penting pada perubahan masyarakat menjadi lebih baik.

Selain itu, keluarga juga dapat dijadikan sebagai sarana pemberdayaan ekonomi kecil dan menengah serta penanaman jiwa wirausaha. “Kami memiliki program bernama SWA (Sekolah Wirausaha Aisyiyah) yang dalam 2 tahun ini sudah berjalan melaksanakan pendidikan non formal bagi ibu-ubu dalam membangun usaha”, ungkap Noordjannah di sela-sela sidang MuktamarSatu Abad ‘Aisyiyah.

Posisi dan peran penting keluarga sangat menentukan dalam mensukseskan visi ‘Aisyiyah. Tak berlebihan jika disebutkan bahwa Indonesia Berkemajuan dimulai dari keluarga berkemajuan. (Che)