100 Tahun TK ABA, Wujud Konsistensi Peran Perempuan 'Aisyiyah

17 Agustus 2019 08:15 WIB | dibaca 240

 
JAKARTA – Jauh sebelum Indonesia merdeka, Taman Kanak-Kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) berdiri sebagai sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pertama yang dimiliki oleh kaum bumi putera. Mencapai usia satu abad, TK ABA dianggap mampu bertahan karena semangat ideologi Surat Al-Ma’un tentang aksi amal dan kepedulian sosial.
 
“Meski terbatas pada pendidikan sains pada masanya, kader-kader ‘Aisyiyah menanamkan keimanan pada pendidikan anak dan itu mencerdaskan emosional. Tidak mudah mempertahankan sekolah sampai satu abad,” ungkap Ketua Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah Masyithoh Chusnan dalam peringatan Milad 100 Tahun TK ABA di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Kamis (15/8).
 
Didirikan pada 1919, TK ABA (yang awalnya bernama Froeble 'Aisyiyah Kindergarten) dimaksudkan sebagai usaha perlawanan terhadap TK (froeble school) milik Belanda yang sekuler dan diskriminatif terhadap pribumi. TK ABA juga dibentuk untuk memberikan pendidikan tentang dasar-dasar Keislaman dan pendidikan cinta tanah air.
 
Dari 1919 hingga 2019, TK ABA tidak hanya menjadi pinoir PAUD di Indonesia, tetapi juga telah menjangkau berbagai daerah di pelosok Indonesia dan luar negeri seperti Singapura, Australia dan Mesir. 
 
Dalam kesempatan yang sama, Ditjen PAUD Kemendikbud, Muhammad Hasbi memuji konsistensi peran ‘Aisyiyah dalam 100 tahun membangun peradaban. Menurut Hasbi, sedikitnya 20.000 TK ABA yang tersebar mencakup 20 persen peran Muhammadiyah dalam pendidikan anak usia dini.
 
Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati mencatat di beberapa pulau terluar seperti Natuna dan lainnya, bahkan TK ABA ditemuinya berdiri di tengah keterbatasan dan menjadi satu-satunya alternatif.
 
“Di setiap daerah yang ada ‘Aisyiyahnya mesti berdiri TK ABA, tidak peduli ada uangnya atau tidak,” puji Rita terhadap militansi pengamalan perempuan ‘Aisyiyah.
 
“Ibu-ibu ‘Aisyiyah selalu punya komitmen untuk menaikkan kualitas. Ada yang cuma modal sendiri, ada yang cuma modal semangat, tapi tetap saja tujuannya sama, yaitu panggilan agama untuk membangun bangsa. Karena kami yakin mendidik mereka, anak-anak usia dini itu akan melahirkan negara yang tentram aman dan diberkati Tuhan, baldatun tayyibatun wa rabbun ghaffur,” sambung Masyithoh.
 
Peringatan Milad 100 tahun TK ABA sedianya akan dilakukan di rentang akhir Agustus hingga September 2019 melalui berbagai kegiatan seperti Seminar Internasional, Tasyakuran yang melibatkan pengurus TK ABA se-Iindonesia beserta pemecahan rekor MURI, EXPO Pendidikan, Gerakan Filantrofi, dan Pemberian Penghargaan kepada Pendidik PAUD dan Penggiat PAUD ‘Aisyiyah.
 
Sumber: muhammadiyah.or.id