Pola Hidup Sederhana

12 Juni 2015 15:56 WIB | dibaca 1278 | oleh: Aisyiyah

 

Ilustrasi (Sumber : google image)

 

Menjadi sederhana di era kini bukan perkara mudah. Ketika segala hal diukur melalui sesuatu yang bersifat artifisial orang cenderung tertuntut untuk berlomba-lomba memperlihatkan apa yang dimiliki. Hal ini tentu bersebrangan dengan anjuran dalam Islam sebagaimana banyak dicontohkan oleh generasi terdahulu. Termasuk alim ulama di zamannya.

 

Salah satunya seperti tertuang dalam surat al-Furqan ayat 67 yang artinya “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu ) di tengah-tengah antara yang demikian.”

 

Melalui ayat tersebut, Allah menganjurkan umat manusia untuk memperlakukan “kekayaan” dengan bijak melalui pola hidup hemat, sederhana, sekaligus tidak tinggi hati untuk apa yang dimiliki. Bahkan, secara gambling, manusia dianjurkan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

 

Dalam literatur Islam, kesederhaan bukan perkara baru. Rasulullah bahkan secara terang-terangan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya penampilan fisiknya, bahkan kesederhanaan diterapkan Rasul dalam kesehariannya di rumah tangga. Hal itu kemudian diteladani oleh putrinya, Siti Fatimah. Bersama Ali, Siti Fatimah rela hidup dalam keterbatasan dan menyumbangkan harta tak seberapanya bagi siapa saja yang membutuhkan. Kesederhanaan ini tidak berhenti pada generasi Rasul. Jauh setelahnya, K.H. Ahmad Dahlan menerapkan kesederhanaan hidup dengan mengamalkan harta dan dirinya untuk membantu masyarakat miskin di sekitar Kauman. Seperti tergambar dalam salah satu adegan di Film Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo, di mana bersama muridnya, K.H. Ahmad Dahlan membagikan makanan kepada warga di sekitar alun-alun. Belakangan, keteladanan K.H. Ahmad Dahlan tersebut menjadi nadi gerakan di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang diterjemahkan menjadi Gerakan al-Ma’un.

 

Kenapa pola hidup sederhana dianjurkan dalam Islam? Karena sikap sederhana tidak memaksa seseorang untuk mengikuti status sosial yang diukur berdasarkan pemikiran manusia. Akan berbeda ketika seseorang bersikap berlebihan pada hal-hal artifisial. Ketika seseorang ingin diakui sebagai seseorang dengan status sosial tinggi, secara tidak langsung dia dituntut untuk tampil sesuai standar status tersebut. Dengan tetap bersikap bijak dengan berhemat dan sederhana, seseorang tidak akan tertuntut untuk mengikuti gaya hidup yang akan terus berkembang dari zaman ke zaman.