Akhlak Berbisnis : 9 Penyebab Terlarangnya Transaksi Bisnis

21 Agustus 2015 15:55 WIB | dibaca 1119 | oleh: Aisyiyah

Ilustrasi (Foto : Google Image)

Ilustrasi (Foto : Google Image)

 

Selain harus berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam, pelaku bisnis juga perlu memahami landasan hukum jual beli dalam Islam yang menjadi penyebab terlarangnya suatu transaksi bisnis. Hal itu agar bisnis tetap memberi manfaat yang seimbang antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi. Berikut landasan hukumnya :

 

Pertama, tadlis adalah transaski yang mengandung suatu hal yang tidak diketahui oleh salah satu pihak. Dalam Islam, setiap transaksi bisnis harus didasarkan prinsip kerelaan antara kedua belah pihak. Keduanya harus memiliki informasi yang sama sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Empat hal dalam transaksi yang dikategorikan sebagai tadlis : aspek kuantitas dengan mengurangi takaran, aspek kualitas dengan menyembunyikan kecacatan barang, aspek harga dengan memanfaatkan ketidaktahuan pembeli akan harga pasar, dan aspek waktu atau menyanggupi mengadakan barang di waktu tertentu sedangkan ia menyadari tidak akan sanggup memenuhi.

 

Kedua, Taghrir adalah transaksi penukaran yang mengandung ketidakpastian bagi kedua belah pihak yang dapat terjadi dalam empat hal : aspek kuantitas jual beli ijon (belum Nampak kejelasannya), aspek kualitas seperti melakukan jual-beli anak Sapi yang masih dalam perut induknya, aspek waktu dengan ketidakpastian delivery time bagi kedua belah pihak.

 

Ketiga, Bay Najasy (Manipulasi Permintaan), merupakan upaya mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan menciptakan permintaan palsu. Misalnya saja dengan menyebarkan isu, melakukan permintaan pembelian fiktif (palsu).

 

Keempat, Ihtikar merupakan upaya mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan menjual lebih sedikit untuk harga yang lebih tinggi. Contohnya dengan mengupayakan kelangkaan barang baik dengan cara menimbun dagangan atau menggunakan berbagai penghalang yang berupa aturan-aturan kebijakan; menjual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga sebelum muncul kelangkaan barang.       

 

Kelima, Riba. Ada tiga jenis riba. Pertama, Riba Fadl atau upaya mengambil keuntungan dari pertukaran barang sejenis yang secara kasat mata sama kualitasnya tapi tidak memenuhi kriteria sama kualitasnya, sama kuantitasnya, dan sama waktu penyerahannya. Kedua, Riba Nasiah atau upaya mengambil keuntungan dari percampuran kerjasama bisnis yang tidak memenuhi prinsip untung muncul bersama risiko dan hasil usaha muncul bersama biaya. Riba Jahiliyah atau upaya mengambil keuntungan dari akad yang bersifat non profit, seperti memberikan pinjaman dengan meminta kompensasi atas pemberian pinjaman tersebut.

 

Keenam, Masyir merupakan permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak yang lain akibat permainan tersebut. Setiap permainan atau pertandingan atau transaksi bisnis, harus menghindari kondisi yang menempatkan salah satu atau beberapa pemain/pelaku bisnis harus menanggung beban pemain/pelaku bisnis yang lain.

 

Ketujuh, Risywah (suap menyuap) merupakan pemberian sesuatu kepada pihak lain untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya. Suatu perbuatan baru bisa dikatakan sebagai tindakan risywah jika dilakukan kedua belah pihak secara sukarela.

 

Kedelapan, Ta’alluq adalah transaksi yang terdapat dua akad yang saling dikaitkan dan akad pertama sangat tergantung pada akad kedua. Contoh : A menjual barang kepada B seharga 120 juta secara dicicil, tetapi dengan syarat B harus menjual kembali kepada A barang tersebut seharga 100 juta secara tunai.

 

Kesembilan, Two in one atau satu transaksi dalam dua akad, yaitu suatu transaksi diwadahi oleh dua akad sekaligus, sehingga terjadi ketidakpastian (gharar) mengenai akad mana yang harus digunakan dan berlaku serta dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu objek sama, pelaku sama, dan jangka waktu sama. Contohnya, A menjual mobil 100 juta kepada B yang harus dilunasi selama 12 bulan. Selama belum lunas, A berarti menyewakan mobil kepada B.