Merencanakan Keluarga, Menyiapkan Generasi Tangguh (Tamat)

04 Maret 2016 15:38 WIB | dibaca 1769 | oleh: Aisyiyah

Jenis-Jenis Alat Kontrasepsi

Alat kontrasepsi ada bermacam-macam, tergantung metode kontrasepsi yang dipilihnya. Metode kontrasepsi dapat dikelompokkan menjadi 5 :

1. Metode alami : kalender, senggama terputus
2. Metode Hormonal : pil, suntik, implant
3. Metode perintang : kondom, spermicidm diafragma
4. Intra Uterine Device (IUD/Spiral) atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
5. Metode operasi : Vasektomi dan tuektomi

Metode operasi, implant dan IUD dapat digunakn untuk jangka panjang waktu yang lama tanpa membutuhkan peralatan tambahan. Pil, suntik dan kondom membutuhkan kepatuhan klien untuk menjamin pencegahan Kehamilan Tak Dikehendaki (KTD).

Pertimbangan memilih alat kontrasepsi

Dalam memilih alat kontrasepsi KB, pasangan suami isteri harus bermusyawarah untuk menyepakati alat kontrasepsi yang aman dan sehat sesuai dengan kesehatan fisik dan kondisi psikis suami isteri. Sebagai muslim, pasangan suami isteri juga perlu memperhatikan pertimbangan hukum islam tentang alat kontrasepsi. Keputusan Majelis TarjihMuhammadiyah tentang KB, memang tidak secara eksplisit menyebut jenis alat kontrasepsi yang boleh dan tidak boleh digunakan melainkan prinsip-prinsipnya. Dalam penjelasan keputusan tarjih itu disebutkan bahwa “pencegahan kehamilan yang dianggap berlawanan dengan ajaran islam ialah sikap dan tindakan dalam perkawinan yang dijiwai oleh niat segan mempunya keturunan atau dengan cara merusak/mengubah organ yang bersangkutan, seperti : memotong, mengikat, dll.

Dengan demikian, diantara alat kontrasepsi yang tidak dibenarkan adalah metode sterilisasi yang merusak/mengubah organ reproduksi dan menyalahi tujuan pernikahan yang pada dasarnya untuk menghasilkan keturunan. Memang saat ini ada yang membolehkan vasektomi dengan alasan ditemukannya teknologi yang memungkinkan dilakukan penyambungan kembali saluran sperma yang telah dipotong (rekanalisasi). Sehingga menurut pendapat ini alasan hukum (‘illah) keharaman vasektomi, yakni pemandulan permanen yang dapat dihilangkan. Karenanya berdasarkan argumen ini hukum vasektomi menjadi boleh (mubah), sesuai dengan kaidah fiqhiyah : “Hukum sesuatu tergantung pada ada-tidaknya alasan hukmnya” dan “hilangnya hukum sesuatu disebabkan oleh hilangnya alasan hukum (‘illah) nya”. Namun Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se Indonesia tahun 2009 yang diikuti oleh sekitar 750 ulama dari seluruh Indonesia tetap mengharamkan vasektomi, dengan alasan bahwa upaya rekanalisasi (penyambungan kembali) saluran sperma yang telah dipotong tidak menjamin pulihnya tingkat kesuburan yang bersangkutan sehingga vasektomi tergolong kategori tahdid an-nasl (pembatasan kelahiran) yang diharamkan.

Untuk itu, para pasangan usia subur boleh memilih metode ber KB baik berupa kab alami, menggunakan perlindungan/kondom, KB hormonal maupun AKDR/Spiral.mengingat penggunaan alat-alat kontrasepsi memiliki kelebihan dan kelemahan,baik terkait dengan karakter alat maupun kondisi masing-masing individu yang rentan terhadap alkon tertentu, maka memilih alat kontrasepsi, pasangan suami-isteri sebaiknya konsultasi dengan dokter atau bidan yang memiliki kompetensi.

Pemilihan alat kontrasepsi yang berpihak pada keamanan perempuan yakni mempertimabngkan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan bagi perempuan. Hal ini seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah agar perempuan mendapatkan hak kesehatan reproduksinya. Namun sampai saat ini banyak kita teMUI dilapangan sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyiyah dalam mensosialisasikan hak-hak kesehatan reproduksi, bahwa sebagian besar perempuan yang menggunakan alat kontrasepsi suntik atau hormonal, sementara alat kontrasepsi ini memiliki efek samping bagi pemakaianya namun si pemakai tidak pernah mendapatkan hak informasi yang sebenarnya. Permasalahan yang lain, bahwa KB dengan menggunakan alat kontrasepsi selalu ditekan pada perempuan dan seperti menjadi tanggungjawab perempuan. Padahal seharusnya tidak demikian, karena untuk mencapai kehidupan keluarga yang sakinah atau sejahtera merupakan tanggung jawab suami-isteri termasuk dalam menjalankan Keluarga Berencana.

Sumber : Buku Pengajian Kesehatan Reproduksi Menuju Keluarga Sakinah (Terbitan : Lembaga Penelitian dan Pengembangan PP ‘AIsyiyah)