Merencanakan Keluarga, Menyiapkan Generasi Tangguh (Bagian 1)

12 Februari 2016 15:42 WIB | dibaca 2466 | oleh: Aisyiyah

 

 

Untuk memahami pengertian Keluarga Berencana secara menyeluruh, berikut ini disampaikan tiga pengertian Keluarga Berencana menurut lembaga-lembaga yang punya otoritas untuk membahasnya yaitu WHO(1997), UU No. 10 tahun 1992, dan UU No. 52 tahun 2009.

 

  1. Menurut World Health Organisation (WHO) Expert Committee 1997, Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu pasangan untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan; mendapat kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur interval di antara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur pasangan serta menentukan jumlah anak dalam keluarga.
  2. Menurut Undang-Undang No. 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera, Keluarga Berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
  3. Menurut UU No. 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga, Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Dalam UU tersebut dijelaskan juga tentang pengaturan kehamilan yaitu upaya untuk membantu pasangan suami istri untuk melahirkan pada usia yang ideal, memiliki jumlah anak, dan mengatur jarak kelahiran anak yang ideal dengan menggunakan cara, alat, dan obat kontrasepsi.

 

Dari tiga rumusan pengertian tersebut, UU No 10 tahun1992 nampak lebiih luas cakupannya, tidak hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat pragmatis terkait dengan pengaturan keluarga, tetapi mencakup:

 

  • Pendewasaan usia perkawinan (PUP)
  • Pengaturan kelahiran
  • Pembinaan ketahan keluarga
  • Peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.

 

Dalam rumusan menurut WHO dan UU no 52 tahun 2009, keduanya memfokuskan pada upaya membantu pasangan suami istri dalam melakukan pengaturan kehamilan. WHO memfokusakn pada :

 

  • Menghindari kehamilan yang tidak diinginkan
  • Mendapatkan kehamilan yang memang sangat diinginkan
  • Mengatur interval di antara kehamilan
  • Menentukan jumlah anak dalam keluarga

 

Sedangkan UU No 52 tahun 2009 memfokuskan :

 

  • Upaya mengatur kelahiran anak, jarak kelahiran anak, usia ideal melahirkan, dan upaya mengatur kehamilan
  • Metode promosi , perlindungan, dan sesuai dengan hak reproduksi
  • Tujuan keluarga berencara untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas

 

Dengan dimikian, amanat Undang-undang pada dasarnya menganggap bahwa program Keluarga Berencana di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas, yaitu keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan dan bercirikan sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (Bersambung)

 

Sumber : Buku Pengajian Kesehatan Reproduksi Menuju Keluarga Sakinah (Terbitan : Lembaga Penelitian dan Pengembangan PP ‘AIsyiyah)